Lompat ke isi utama
Pengunjung CFD Dago memilah produk karya difabel.

Car Free Day, Ajang Sosialisasi Karya Difabel

Solider.id, Cimahi. – Banyak cara untuk mensosialisasikan karya difabel. Car Free Day (CFD) menjadi salah satu alternatif tempat yang tepat.

Masyarakat umum masih awam atau jarang mengetahui hal apa saja yang dapat dilakukan difabel. Beragam prestasi dan karya yang mampu diraih para difabel pun sering luput dari pemberitaan. Sepi dari publikasi.

Difabel  lebih marak disorot ketika menjadi penerima manfaat. Namun, coba tengok dari sudut pandang yang lain. Banyak difabel yang memiliki kemampuan dalam bidang seni dan olahraga, kerajinan tangan, servis eletronik, mekanik, komputer, hingga pengusaha kuliner juga busana atau lainnya.

Salah satu ide yang sangat cerdas sudah dilakukan oleh para pendidik dan siswa SLB D YPAC kota Bandung. Dalam rangka mensosialisasikan hasil karya anak-anak didiknya, setiap bulan di minggu pertama atau kedua mereka aktif mengisi lahan car free day kawasan Dago Bandung (Jalan Ir. H. Juanda).

“Pagi ini saya bersama guru lain, ada Pak Adi, Pak Ares, dan Bu Elsa. Kami mengajak Gunadarma dan Candra difabel Downsindrom. Dua lainnya berhalangan untuk hadir, yang Autis dan difabel Daksa,” Kasim. S.pd, salah satu guru YPAC menuturkan di lokasi CFD Dago. Minggu pagi, (11/2).

Dari penuturannya, Kasim menjelaskan, mereka terjun secara langsung untuk memberikan pembelajaran secara nyata (real) mengenai transaksi jual beli, berkomunikasi juga bersosialisasi dengan masyarakat luas.

Senada dengan yang disampaikan Kasim, ada tiga nilai yang menjadi tujuan dalam kegiatan tersebut. Yaitu dari aspek ekonomi, interaksi dan sosialisasi.

Dikaji dari aspek ekonomi

Kegiatan yang dilakukan para guru dan siswa tersebut  meraup berbagai keuntungan dan nilai lebih. Mereka tidak memerlukan dana khusus untuk sewa tempat atau untuk buka lapak, namun banyak pengunjung atau calon pembeli yang telah datang dengan sendirinya. Selain itu, mereka juga mendapatkan lokasi strategis tanpa memilah-milah posisi tempat yang dikhususkan.

Keuntungan lainnya, tidak memerlukan media promosi berupa brosur, selebaran, pamflet, spanduk dan lainnya yang membutuhkan dana untuk pembuatannya.

Lebih efisiensi, cukup dengan menggunakan meja lipat, henger batang berbaud yang bisa bongkar pasang saja. Semua hasil karya yang hendak disuguhkan kepada para pengunjung car free day suadah dapat digelar.

Dikaji dari aspek interaksi / komunikasi

Melihat respon yang sangat positif dari para pengunjung dengan  latar belakang yang beragam, menandakan peluang interaksi terbuka luas untuk difabel.

Berfoto bersama, bercengkrama, menjadi cara baru yang terlajin secara alami dalam interaksi langsung antara difabel dengan pengunjung. Komunikasi terjadi tidak sekedar dari bahasa lisan semata. Gerak tubuh, kontak mata, ekspresi spontan menjadikan sebuah komunikasi yang unik dalam menyampaikan tujuannya.

Contoh kecil interaksi saat negosiasi harga dari kedua belah pihak, yaitu difabel sebagai penjual dan pengunjung sebagai pembeli.

Hal yang dapat mendukung penuh untuk menciptakan interaksi serta komunikasi dua arah yang seimbang, diantara warga difabel dengan masyarakat umum perlu adanya peran serta media sebagai sumber menyebar informasi dan publikasi.

Infomasi yang menyebar dan sosok-sosok difabel yang dipublikasikan mesti berimbang. Artinya, bukan hanya melulu sebagai penerima manfaat saja. Prestasi, karya, dan kemampuan lain yang dimiliki difabel pun sangat perlu untuk diinformasikan kepada masyarakat luas.

Dikaji dari aspek sosialisasi

Car free day bukan hanya menjadi tempat yang tepat untuk berdagang karena banyak pengunjung, yang dapat diartikan banyak pula calon pembelinya. Atau, tempat yang mendukung terjalinnya komunikasi dan interaksi semata karena adanya transaksi jual beli yang berlangsung.

Sosialisasi dapat dilakukan di mana saja, kapan saja. Juga dapat dikondisiskan sesuai kebutuhannya.

Akan tetapi, langkah yang telah diambil para pendidik tersebut, menjadi salah satu ide cerdas dalam mensosialisasikan keseluruhannya. Baik difabel dalam karyanya maupun sebagai keberadaannya di lingkungan umum.

Masyarakat akan mengenal jenjang sekolah luar biasa (SLB), mengetahui difabel, sosok-sosok anak berkebutuhan khusus dengan kemampuannya. Melihat nyata hasil karya mereka. Yang pada akhirnya diharapkan masyarakat tidak memandang dengan sebelah mata kepada difabel.

Hal ini juga akan memberikan efek kesadaran dalam diri masyarakat umum yang menyampaikan, ‘Dibalik hambatan yang dimiliki difabel, masih banyak potensi mereka yang bisa dikembangkan.’

Dalam kesempatan tersebut, orang tua Gunadarma dan Candra keduanya yang turut hadir mengantarkan terlihat senang, mereka merasa bangga dengan buah hatinya yang mau berpartisipasi.

“Gunadarma dan Candra sangat senang dan antusias saat ada pembeli atau pengunjung yang mendatangi,” tutur mereka.

Ekspresi dan ucapan yang sama pula yang disampaikan kedua siswa Downsindrom Gunadarma dan Candra.

Di akhir pemaparannya kepada solider.id, Kasim mencerikan sekilas tentang hasil jualan anak didiknya, “Pengunjung mau membeli produk siswa kami. Hasil yang terjual beragam. Rata-rata setiap jualan untuk sandal hotel laku 16 hingga 30 pasang, kerudung hias dan kaos lukis 2 hingga 5 pcs.”

Namun, yang lebih dinikmati dari kegiatannya adalah reaksi anak-anak didiknya ketika diajak ke lokasi car free day.

Tidak selalu diperlukan rincian anggaran yang panjang dan mahal untuk mengadakan kegiatan sosialisasi tentang isu difabel. Dibalik setiap yang dilakukan, ada niat dan tujuan yang lebih diutamakan. (Srikandi Syamsi)

The subscriber's email address.