Lompat ke isi utama
 Sarjiyo Tampil di Acara Peringatan HDI Kulon Progo 2017

Kesenian untuk Media Kampanye Inklusi dan Kritik Sosial

Solider.id, Yogyakarta - Sarjiyo, Ketua KDD (Kelompok Difabel Desa) Sidorejo, Lendah, Kulon Progo sangat getol dalam menyuarakan inklusi sosial dari lingkungan terkecilnya di desa Sidorejo sampai cakupan yang lebih luas, yaitu lingkup Daerah Istimewa Yogyakarta. Sarjiyo berangkat dari pengalaman bangkit ketika menjadi difabel di usia muda. Pemahamannya akan hak difabel mengantarkannya menjadi narasumber isu difabel dari desa di beberapa kesempatan. Tapi ada metode menarik yang sering dilakukan Sarjiyo dalam mengkampanyekan isu difabel dan isu kritik sosial lainnya: media kesenian.

Jumat (9/2), Solider.id mengunjungi Sarjiyo dan melakukan wawancara di warung makannya yang terletak di desa Sidorejo, Lendah, Kulon Progo. Dengan ditemani oleh dua gelas kopi hitam yang mengepul dan suara motor yang lalu lalang, wawancara pun dimulai.      

Bagaimana awal mula bergelut di bidang kesenian?

Awal mula bergelut di bidang kesenian itu karena saya punya hobi dengan hal yang berbau seni. Mulanya, saya hanya coba-coba. Namun setelah itu malah keterusan. Kesenian pertama yang saya ikuti adalah ketoprak di desa, kemudian berkembang sisi humor dalam kesenian yang saya bawakan. Jadi, saya sebagai pelaku humormya, dagelan lah istilahnya. Aktif berkesenian dari tahun 2012 dalam bentuk organ tunggal. Kalau berkesenian ketoprak itu malah sejak belum menjadi difabel. 

Lalu, di sisi lain, saya suka berkesenian karena memang senang berkaraoke. Dulu saya sering ikut lomba karaoke di desa dan juga sering menyumbang lagu jika ada hajatan di dusun. Setelah itu, saya keterusan dan punya seorang kawan yang bernama Deni. Kami akhirnya sering tampil walaupun hanya dengan keyboard pinjeman. Pertama tampil dengan Deni, saya masih merasa grogi. Lama-lama, kami malah membentuk grup kesenian dengan alat seadanya. Mulanya untuk menghibur diri sendiri, menghibur kawan sekitar, lalu muncul tawaran untuk pentas sehingga sampai saat ini kami akhirnya banyak pentas.

Semenjak itu, saya dan Deni akhirnya menggunakan kesenian sebagai kampanye difabel dan inklusi sosial di masyarakat. Selain bersifat hiburan, ada sisipan kampanye inklusi sosial juga. Jadi, kami mencoba mengkampanyekan inklusifitas mulai dari keluarga, masyarakat hingga pemerintah. Latar belakang humor dan ketoprak sangat mendukung saya terutama saat berperan sebagai MC dan saat bernyanyi.

Menyuarakan inklusifitas sosial lewat contoh seperti apa?

Inklusifitas sosial saya suarakan salah satu contohnya lewat sebuah lagu pendek yang kami buat sendiri. Lagi itu kami sisipi dengan pesan terkait difabilitas. Kami juga mengkampanyekan kekhasan yang ada di Kulon Progo seperti batik dalam lirik lagu pendek yang kami buat.

Lalu, ada juga lagu bertema kritik sosial yang sering kami bawakan. Judulnya “Dalan Dalan Ndeso.” Lagu ini bercerita tentang seorang calon legislatif yang banyak membuat janji saat kampanye tapi setelah itu lupa akan janjinya. Lagu itu bukan buatan saya, tapi buatan seorang teman yang ada di Jogja.

Ada juga lagu berjudul “Pak Bupati” yang mengkitik pemerintah karena memberi janji namun kenyataannya di masyarakat masih banyak pengangguran dan permasalahan lainnya. Yang lagu “Pak Bupati” itu rekan saya Deni yang buat. Sekarang, ia sudah meninggal dunia dan penggantinya adalah Anang yang rumahnya di Lendah Kulon Progo.

Apakah kesenian ketoprak masih sering dilakukan?

Sekarang saya sudah tidak bermain ketoprak lagi karena faktor kondisi fisik. Tapi ketika harus tampil sebagai aktor drama humor, saya masih bisa. Bahkan saya pernah diundang di JNM (Jogja National Museum) untuk membuat sebuah drama dan saya sendiri yang menjadi sutradara. Waktu itu acaranya adalah kampanye stop kekerasan perempuan. Yang bermain di drama itu adalah gabungan pemain multi difabel. Cerita yang dimainkan adalah lakon “Ande-ande Lumut” yang bercerita bagaimana perempuan mengalami pelecehan seksual, lalu tokoh utama Klenting Kuning membalaskan perlakuan yang dilakukan oleh Yuyu Kangkang.

Menjadi sutradara drama di JNM belajar dari mana?

Belajar sendiri saja. Saya melihat di TV. Cerita Ande-ande Lumut kan sudah familiar. Saya garap dengan tambahan suguhan humor hingga penonton tertarik. Jadi misi untuk mengkampanyekan stop kekerasan perempuan bisa diterima dengan enak.

Kalau humor belajar darimana?

Sebetulnya humor sudah masuk dalam kebiasaan saya ketika bergaul dengan orang. Memang karakter saya seperti itu, kadang bisa otak-atik waton gatuk (cocok mencocokkan). Jadi hanya mengalir saja, tidak belajar dari siapa pun. Hanya imajinasi sendiri dan saya kadang tak ada niatan untuk mengeluarkan gurauan. Hanya mengalir saja. Dulu juga pernah iseng ikut audisi API (Akademi Palawak Indonesai) yang pertama. Tapi, langsung tereliminasi dari awal. 

Kenapa memilih seni untuk menjadi media ekspesi kampanye?

Kesenian itu sangat familiar dan banyak disukai orang. Ketika memasukkan kampenye difabel dan sosial inklusi melalui media seni, meresapnya akan mudah karena pada dasarnya hampir semua orang suka dengan hal-hal yang berbau hiburan dan kesenian.

Selain nilai inklusi, nilai apa yang ingin disampaikan via media seni?

Ya itu, selain inklusi ada kritik sosial kepada pemerintah. Misal anggota DPRD yang harus ingat dengan janjinya dan bupati yang harus merespon apa yang menjadi kemauan rakyat kecil. Ada juga yang isinya mengupas tentang bencana alam. Dengan lagu “Lereng Merapi’ kita bisa mengenang dan bercerita tentang merapi ketika meletus dan mengingatkan diri sendiri dan orang lain agar senantiasa tetap berhati-hati.

Lagu “Lereng Merapi” yang buat adalah Mbah Dono, seorang kawan dari Jogja yang suka bikin lagu.  Namun yang jelas, kebanyakan lagu yang kami nyanyikan itu di pasaran tidak ada. Kaset dan CDnya hanya kami yang punya.

Sudah tampil dimana saja?

Kebanyakan di tempat hajatan, lalu acara HDI (Hari Difabel Internasional), kegiatan kampanye tentang perempuan, pernah juga dengan Sigab di Sendangtirto tampil dengan Mas Dalijo dan Mbok Beruk. Waktu itu sebetulnya grogi tapi karena mereka sudah menjadi seniman yang senior. Tapi, karena tantangan, jadi mengalir saja. Ketika selesai, saya merasa ada kebanggan sendiri.

Ada pengalaman unik lain ketika pentas?

Bukan pengelaman manggung tapi tahun 2012, saya mendapat kesempatan ikut pelatihan lawak dan dagelan yang diadakan di Padepokan Bagong Kusudihardjo selama 4 hari. Yang menjadi narasumber adalah Bu Yuningsih, lalu Mbah Darmo “sulap-selip”, lalu ada dari TPI jakarta dan Pak Darminto. Pelatihan ini memberikan wawasan bagaimana kiat-kiat menjadi pelaku seni. Seperti apa yang dikatakans oleh Bu Yuningsih, “kalau menjadi pelaku seni itu harus pinter cari ndoro atau penanggap.  Mau berkesenian seperti apa ketika pinter mencari penanggap maka akan bisa tetap berjalan. Sebagus apa pun berkesenian tanpa ndoro maka akan susah untuk mengembangkan.

Ke depan akan bagaimana untuk kesenian?

Kalau saya, mengalir saja. Ketika ada orang yang masih mau mengundang, saya akan tetap mau tampil. Karena tujuan saya berkesenian adalah untuk kampanye difabel dan sosial inklusi di masyarakat. (Yuhda)

 

The subscriber's email address.