Lompat ke isi utama
Salah satu anggota Diff’s Community

Diff’s Community: Komunitas Merambah Bisnis

Solider.id, Bandung- “Aku masih ingat betul, saat itu pertengahan tahun 2004. Aku sudah harus memulai hidup baru. Glukoma itu memang berat. Tapi, lebih berat lagi jika terus meratapinya,” ujarnya sembari menyunggingkan senyum.

Aku hanya manggut-manggut mengamininya. Dudu, biasa ia dipanggil. Nama lengkapnya Dudu Hafizh. Lelaki yang lahir di Tasikmalaya pada 26 Agustus 1985 itu terlihat begitu tenang. Ia sosok yang cukup pendiam dan ramah.

Hampir setiap hari Dudu menghabiskan waktunya di Diff’s Reflexology, Klinik Pijat Sehat nan Syar’i yang berlokasi di Jalan Geger Kalong Hilir 75, Bandung. Diff’s Reflexology merupakan salah satu bisnis yang ia dirikan. Selain itu, Dudu juga menjadi owner Massage Home Centre “Cahaya Dhuha”.

Meski sudah memiliki dua usaha, ternyata semua itu membuat Dudu puas. Kemudian ia mendirikan sebuah komunitas, yaitu Difable Inclusive Friendships Forum (DIFF) lengkap dengan taglinenya, Different and Complete.

Hal yang mendasari berdirinya komunitas tersebut adalah keinginan Dudu untuk menepis anggapan masyarakat umum mengenai pekerjaan Difabel. Seringkali masyarakat menganggap bahwa pekerjaan difabel, khususnya difabel netra, hanya berupa klinik pijat. “Padahal kami memiliki teman-teman Cerebral palsy dengan berbagai keahlian, yaitu bekam dan administrasi,” jelas Dudu.

Bagi Dudu, komunitas sudah menjadi kebutuhan untuk difabel. Dikarenakan selama ini difabel selalu mendapat stigma negatif, bahwa difabel itu lemah. “Saat ini kami tengah mencoba membangun mindset ke masyarakat bahwa difabel itu berpotensi, difabel juga bisa eksis, bisa produktif dan bisa mandiri,” terang Dudu, mahasiswa Sekolah Tinggi Bahasa Asing Technocrat, Tangerang.

Saat ini, komunitas atau organisasi difabel sudah banyak. Jika organisasi difabel lainnya bergerak dalam bidang sosial dan advokasi, komunitas DIFF bergerak di bidang usaha informal. Dalam memberikan pelatihan kepada para difabel, DIFF menggandeng lembaga pemerintah dan swasta. Adapun pelatihan yang diadakan berupa pelatihan pengelolaan usaha dan pelatihan manajemen. Diharapkan dengan pelatihan tersebut, difabel bisa membuka usaha sendiri sesuai keahliannya. Bukan hanya sebagai pekerja.

Namun, ada beberapa hal yang dapat menghambat keinginan difabel untuk mendirikan usaha sendiri. Seperti terbatasnya mobilitas, relasi, finansial maupun knowledge. Maka dari itu, dalam memberikan pelatihan, DIFF membagi para difabel menjadi beberapa kelompok. Terdapat tiga macam difabel, yaiitu Cerebral Palsy, Tuli dan netra.

Diff’s sudah berjalan selama dua tahun. Di bawah naungan Yayasan Daruut Tauhid dan Bank Indonesia, DIFF mengembangkan usahanya menjadi Diff’s Laundry dan Diff’s Barber. Diff’s juga selalu berupaya mengembangkan usahanya supaya bisa merambah ke Diff’s Cake, Diff’s Collection dan sebagainya. [Yanti]

The subscriber's email address.