Lompat ke isi utama
Forum perumusan stiker kendaraan bagi difabel

Stiker Kendaraan Difabel Sebagai Gerakan Penyadaran Publik

Soliderid, Yogyakarta- Penggunaan stiker bagi kendaraan difabel mulai diwujudkan Komite Disabilitas DIY, Dria Manunggal dan Pusat Studi Transportasi dan Logistik (PUSTRAL) UGM. Hal tersebut merupakan bagian dari upaya penyadaran bagi publik tentang mobilitas bagi difabel serta penggunaan jalan raya.

Uji coba pemasangan stiker pada mobil dan motor yang dikendarai difabel telah dilaksanakan di PUSTRAL UGM, Rabu (31/1). Di forum tersebut pula, tiga desain stiker dengan memuat tiga simbol yang merepresentasikan kedisabilitasan. Yakni, stiker bagi pengendara tuli, difabel intelektual, dan difabel daksa.

Stiker dipasang di bagian depan dan belakang kendaraan, baik mobil maupun motor. Dengan demikian pengendara lain yang berada di belakang maupun di depan diharapkan dapat memahami pengendara difabel dengan melihat stiker tersebut. Sehingga pengemudi lain tidak perlu membunyikan klakson berkali-kali ketika mengetahui bahwa pengendara difabel tuli. Selan juga menjaga jarak dan memberikan kesempatan kepada difabel berkendara di jalan raya.

Pemasangan stiker atau simbol tersebut bersifat sementara, untuk itu dilakukan uji coba. Dalam dua bulan, akan dilakukan evaluasi terhadap efektivitas stiker atau simbol kendaraan difabel. Hasil uji coba akan menjadi bahan kajian PUSTRAL UGM untuk mendorong lahirnya kebijakan terkait pemberlakukan stiker atau simbol bagi kendaraan difabel.

PUSTRAL UGM akan membantu riset sebagai bahan untuk percepatan legal-formal simbol kendaraan difabel yang akan diajukan ke Kementerian Perhubungan Republik Indonesia.

"Tidak hanya riset tetapi ada aksi yaitu dengan soft launching, pemasangan simbol atau sticker. Dengan demikian, dampaknya bisa langsung dirasakan, juga sebagai evaluasi yang nantinya akan menjadi bahan draft kajian akademik," ujar peneliti PUSTRAL UGM, Arif Wismadi menginformasikan kepada Solider (31/1).

Menurut Arif, evaluasi, riset, aksi, serta kajian naskah akademik merupakan bagian penting bagi PUSTRAL UGM. “Semua itu akan menjadi syarat utama dalam mengajukan suatu regulasi baik tingkat Peraturan Menteri hingga Undang-undang,” ujarnya.

Selama ini pengendara difabel, khususnya tuli sering kali diklaim sebagai pengendara yang menghadirkan permasalahan di jalan raya. Hambatan pendengaran yang menyertai telah dianggap persoalan ketika tuli berkendara. Sehingga memperoleh Surat Izin Mengemudi (SIM) pun menjadi tidak mudah bagi sebagian besar tuli.

Pemasangan stiker atau simbol tersebut diharapkan menjadi sebuah edukasi bagi publik. Di mana publik akan memiliki kesadaran berbagi jalan dengan pengendara difabel. [Harta Nining Wijaya]

The subscriber's email address.