Lompat ke isi utama
Suasana diskusi di pendapa Kecamatan Mojolaban

Pentingnya Pembentukan Kelompok Difabel Mandiri di Desa

Solider.id, Sukoharjo- “Kelompok difabel mandiri di setiap desa penting dibentuk bukan tanpa tujuan. Pembentukan kelompok difabel mandiri merupakan representasi kemandirian difabel dan aktualisasi serta bentuk partisipasi kelompok difabel di desa.”

Hal tersebut dikatakan Panudi, Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat Desa (TAPMD) babupaten Sukoharjo saat diskusi bersama beberapa anggota kelompok difabel mandiri dan orangtua anak difabel yang aktif di sanggar inklusi, usai mengikuti musyawarah perencanaan dan pembangunan kecamatan (Musrenbangcam) di pendapa kecamatan, Kamis (1/2).

Meski di tingkat kecamatan beberapa kelompok difabel mandiri tersebut belum dapat mengakses anggaran. Namun pembentukkan di tingkat desa menjadi stimulus bagi pemerintah desa untuk mulai terbuka dengan keberadaan difabel. Panudi menyarankan bagi kelompok mandiri difabel agar terlebih dulu berkoordinasi melalui kegiatan rutin.

Winarni, salah seorang pegiat difabel di Paguyuban Sehati Sukoharjo, mengatakan pihaknya telah melakukan pendampingan kepada para ibu yang anaknya difabel. “Syukurlah, kami memiliki sumberdaya yakni ibu-ibu yang solid, dan selama ini pernah juga mendapat pelatihan-pelatihan,” tuturnya. Meski demikian ia mengaku masih memerlukan berbegai pelatihan dalam aspek pemberdayaan ekonomi.

Dorongan untuk membuat kelompok difabel mandiri di desa juga didukung regulasi yang ada. Seperti Peraturan menteri nomor 19 tahun 2017 yang kemudian diturunkan menjadi Peraturan bupati nomor 93 tahun 2017. “Parameternya perlu diperjelas kaitannya dengan difabilitas apa saja,” sambung Panudi.

Menurut Panudi yang perlu dilakukan kelompok mandiri difabel selanjutnya yakni, audiensi dengan Kepala Desa dan Badan Permusyawaratan Desa (BPP). Audiensi untuk mengusulkan pembentukan komunitas difabel desa. “Desa tidak bisa memiliki alasan bahwa tidak ada anggaran,”ujar Panudi.

Lebih lanjut Panuti menegaskan bila nanti sudah mengaturnya, hal penting yang perlu dipikirkan adalah menjalin relasi dengan desa lain dan kelompok difabel.

Edy Supriyanto, ketua Paguyuban Sehati Sukoharjo ditemui di tempat terpisah mengatakan, ia sudah menyampaikan kepada teman-teman di Sehati untuk mengusulkan adanya kelompok difabel mandiri di desanya masing-masing.

“Kita akan menindaklanjuti perdes desa inklusi yang kita upayakan dari program Inisiasi Desa Inklusi (Indi). Dan selama ini pilot project program peduli ada di kecamatan Weru, Nguter, Tawangsari dan Polokarto yang dampaknya sampai ke seluruh kecamatan,” kata Edy. [Puji Astuti]

The subscriber's email address.