Lompat ke isi utama
Eka Pratiwi Taufanti Berani Menerima Setiap Kesempatan

Eka Pratiwi Taufanti: Berani Menerima Setiap Kesempatan

Solider.id, Semarang- Eka Pratiwi Taufanti, difabel netra kelahiran Brebes Jawa Tengah menghebohkan berbagai media karena prestasi-prestasinya yang gemilang. Pada 2016, foto Eka tersebar luas di berbagai media bersama Rektor Universitas Dian Nuswantoro Semarang, Edi Nur Sasongko. Ia menjadi wisudawati terbaik di angkatannya.

Awal perjalanan hidup Eka-sapaan akrabnya-sebagai difabel netra tak berarti tanpa rintangan. Glaukoma yang datang menutup penglihatannya pada 2009 itu sempat menempatkannya berada di titik rendah dalam hidupnya. Ia yang saat itu merupakan mahasiswa baru program studi Pendidikan Bahasa Inggris di UPS (Universitas Pancasakti) Tegal, sempat absen dari bangku kuliah.

Meski begitu, perempuan kelahiran 16 November 1991 ini, bersikukuh untuk tetap bertahan. Mulanya, putri sulung dari Emah Hermawati dan Muhammad Taufik Hidayat ini merasakan bingung harus bagaimana memulai dengan hambatan penglihatan. Hingga suatu hari ia mengenal sebuah komunitas difabel netra, Kartunet.

Eka mulai mempelajari hal-hal baru dari komunitas tersebut. Ia mulai mengenal komputer dengan pembaca layar yang bisa menyalurkan hobi menulisnya. Perempuan yang pernah berprofesi sebagai penyiar radio ini merasakan semangat hidupnya telah kembali.

Sewaktu masih menempuh pendidikan di UPS, Eka pernah bergabung dengan kelompok sastra dan Bahasa Inggris. Ia termasuk mahasiswa yang aktif mengikuti kegiatan mahasiswa di luar waktu perkuliahan.

Mendengar ada beasiswa kuliah gratis dari salah satu perguruan tinggi swasta di Semarang yang diperuntukkan bagi difabel netra, Eka memiliki keinginan besar untuk berkuliah lagi. Meski, orang tuanya sempat tidak setuju karena beberapa faktor, ia memantapkan diri meninggalkan kota kelahirannya ke Jawa Tengah.

Pada 2012, Eka tercatat sebagai mahasiswa baru di Universitas Dian Nuswantoro Semarang (Udinus). Ia mulai mengikuti perkuliahan dengan mencatat dan merekam penjelasan dosen hanya berbekal telepon genggam miliknya. Kondisi perekonomian keluarga yang saat itu tidak stabil, membuatnya tidak berani menuntut kembali laptopnya yang telah terjual. Beruntung, ia mendapatkan pinjaman laptop dari rekan dekatnya yang juga seorang difabel netra.

Ibarat Upik Abu yang berubah menjadi putri cantik, kecerdasan dan keaktifannya dalam kegiatan kampus mengantarkannya menjadi sosok yang dikenal banyak orang. Memasuki perkuliahan semester 2, Eka didaulat dosen mengikuti lomba Speech contest yang diselenggarakan Universitas Negeri Semarang (UNS).

Walaupun belum berkesempatan menjadi juara, Eka menjadi satu-satunya peserta difabel netra di ajang ESA WEEK, sebuah kompetisi bahasa inggris tingkat Jawa Tengah dan DIY. Pada semester genap berikutnya, ia ditugaskan lagi mengikuti kompetisi penulisan esai berbahasa Inggris di ajang yang sama.

Kemampuannya mulai diakui juri dengan menyerahkan piala juara II kepadanya. Eka juga sering mengikuti kompetisi-kompetisi tingkat Universitas seperti penulisan karya ilmiah dalam Pekan Ilmiah dan Seni, pembuatan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), serta mewakili fakultas dalam seleksi mahasiswa berprestasi.

Selain bersinar di bidang akademik, Eka juga aktif berpartisipasi dalam beberapa kegiatan lokal maupun internasional. Hobi menulis turut mengantarkannya mendapatkan kesempatan terbang ke Hong Kong bersama satu rekannya yang juga pengurus di Dewan Pengurus Daerah Pertuni Jawa Tengah.

Waktu itu, Eka mencoba mengirimkan gagasannya tentang pembelajaran bahasa inggris dengan gawai dalam sebuah kompetisi esai teknologi yang diselenggarakan World Blind Union tingkat Asia Pacific. Ia menjadi salah satu peserta yang lolos dalam 8 besar terbaik dan mempresentasikan karyanya di Youth Forum tersebut.

Eka tidak berkecil hati walaupun ia belum berhasil memenangkan dana hibah. Menurutnya kesempatan tersebut adalah kebanggan tersendiri untuknya. Ia bisa mewakili Indonesia di ajang bergengsi.

Berikutnya, Eka juga berkesempatan mendapatkan pelatihan tentang manajemen organisasi di Sydney, Australia. Kegiatan ini adalah short course atau pelatihan singkat selama kurang lebih 2 minggu yang disponsori Australia Awards. Kemudian yang tidak kalah membanggakan, ia bersama anak muda alumni ICOMP Youth Leaders menjadi pembicara di Konferensi ke-VIII tentang kesehatan reproduksi di Myanmar.

Nama Eka juga cukup berkibar di berbagai acara di tanah air. Eka merupakan alumni Young Visionary Leaders Training yang diprakarsai International Council on Management of Population programme (ICOMP) dari Malaysia. Acaran ini merupakan suatu kegiatan yang membahas isu kesehatan reproduksi remaja.

Pelatihan tersebut juga membawa Eka untuk bisa bergabung menjadi anggota Youth Camp International di Bali yang bertemakan Family Planning. Ia tidak pernah berhenti mengukirkan prestasi. Masih banyak aksinya yang membuat orang yang mendengarnya ikut merasa bangga.

Eka merasa sangat beruntung dengan segala kesempatan yang hadir. Dengan mengikuti kegiatan-kegiatan tersebut, ia bisa mengenal orang-orang baru dari berbagai latar belakang. Selain itu, ia juga bisa melakukan kampanye tentang isu difabilitas kepada masyarakat non-difabel.

Eka Pratiwi Taufanti-bisa dibilang-teladan anak muda difabel yang kreatif dan inovatif. Mengajar adalah bagian dari passionnya. Berbagi berbagai hal termasuk pengetahuan ialah hal yang menyenangkan baginya. Menurut Eka, sebagai difabel seharusnya tidak hanya menuntut inklusivitas.

“Jika dirinya sendiri belum bisa terbuka untuk orang lain. Segala bentuk informasi dan pengetahuan harus dibagikan kepada semua orang termasuk difabel didalamnya,” tuturnya. Seperti yang sedang Eka tekuni saat ini. Ia sedang gencar melakukan kampanye tentang difabilitas dan kesehatan reproduksi bagi difabel melalui audio blog.

Eka berpesan, “Jangan pernah takut untuk mencoba segala hal baik. Tidak perlu berambisi menjadi yang terbaik, yang terpenting cobalah segala kesempatan yang ada. Seseorang menjadi sosok yang hebat bukan karena dia superior, tapi itu adalah tentang bagaimana dia menggunakan kesempatan yang ada.”

Eka Pratiwi Taufanti tidak pernah merasa hebat. Baginya, mengetahui orang lain terinspirasi menjadi lebih baik karena dirinya adalah suatu hal yang membuatnya bersyukur karena dapat memberikan motivasi kepada sesama. [Agus Sri]

The subscriber's email address.