Lompat ke isi utama
Praktik memasak pada pertemuan rutin kelompok difabel "Semanga" sebagai salah satu pemberdayaan ekonomi.

Kelompok Difabel “Semangat” dan Praktik Inklusif di Desa Lorog

Solider.id, Sukoharjo- Yuni, seorang perempuan dengan hambatan pendengaran atau tuli salah satu penduduk desa Lorog. Sehari-hari ia bekerja membantu di selepan (red: penggilingan padi). Hari itu, ia tampak duduk menyendiri di sebuah sudut ruang di sebuah acara pertemuan. Sedangkan teman-teman perempuan lainnya, seperti Endang dan Eni sedang disibukkan dengan membuat bandeng dan ayam presto.

Sebelum itu, mereka membincang dan menghitung harga bumbu dan ukuran yang diperlukan untuk keperluan belanja. Tidak lama, bumbu, ikan bandeng mentah dan bahan-bahan lainnya sudah tersedia, tingga kupas-kupas dan menghaluskan. Setelah itu kemudian salah seorang pergi ke pasar, membeli lima kilogram ayam yang telah dipotong-potong.

Aktifitas mereka merupakan bagian dari kegiatan kelompok difabel dan vokasional di rumah Suprayogi di desa Lorog, kecamatan Tawangsari, Minggu pagi (14/1). Termasuk Yuni, seorang perempuan tuli yang sedari tadi duduk di ruang acara yang juga hadir dalam kegiatan tersebut.

Setelah beberapa teman Yuni dari kelompok “Semangat” berkomunikasi dengan Yuni, kemudian mengerti bahwa dirinya sedang memiliki problem. Lalu dengan bahasa isyarat yang dia peragakan, Yuni mau kembali bergabung dengan teman-temannya. Sebelumnya sempat terjadi kesalahpahaman antara Yuni dengan salah seorang relawan Sehati yang saat itu mendampingi kegiatan.

Tapi kini, Yuni turut mempersiapkan berbagai bahan masakan dan melihat Rini dengan seksama. Rini narasumber pengampu pelatihan memasak, dimana ia salah satu orangtua difabel juga penduduk desa Lorog.

Kelompok difabel “Semangat” dibentuk pada 27 Juli 2017 dengan anggota berjumlah 20 orang. Kelompok ini memiliki jadwal pertemuan rutin yang diisi dengan pelatihan-pelatihan. Tak hanya memasak, di Minggu pagi itu sebagian anggota kelompok juga berpraktik membuat kerajinan bambu membuat tusuk sate dengan peralatan sederhana.

Di teras rumah Suprayogi (46), enam orang difabel memotong kecil-kecil bambu lalu merautnya di sebuah alat logam kecil yang tertempel di sebuah bangku panjang. “Pekerjaan membuat tusuk sate bisa dilakukan oleh difabel yang memiliki hambatan mobilitas, seperti bapak ini, yang mengalami stroke dan menggunakan kruk sebagai alat bantu. Biarpun sudah lansia, tetap berdaya,” ujar Edy Supriyanto, Ketua Paguyuban Difabel Sehati Sukoharjo.

Kelompok difabel “Semangat” didukung penuh oleh Muksam, Kepala Desa. Dalam musyawarah rencana pembangunan kelurahan (Musrenbangkel) yang diadakan belum lama ini, kelompok difabel “Semangat” telah dapat mengakomodir dana desa dan pada 2018 ini sudah dianggarkan.

Kelompok difabel “Semangat” juga sangat berperan saat peringatan Hari Difabel Internasional (HDI) tingkat kecamatan yang berbarengan dengan deklarasi Tawangsari kecamatan inklusi pada Minggu, 24 Desember 2017 lalu.

Suprayogi, mantan sopir angkutan desa yang pernah mengalami stroke, kini sehari-hari berkegiatan di rumah. Ketua kelompok difabel “Semangat” tersebut mengatakan harapannya kedepan anggota kelompoknya akan bertambah, bukan hanya 20 orang saja.

“Kelompok kami inklusif, karena tak hanya difabel, tetapi keluarga difabel juga bisa berperan. Termasuk pada pagi hari ini, narasumber berasal dari anggota kelompok kami sendiri,” ujar Suprayogi. [Puji Astuti]

The subscriber's email address.