Lompat ke isi utama
EVA, gadis tuli asal malang yang sangat berprestasi secara akademik

Makna Hari Tuli Nasional 2018 dalam Pemenuhan Hak Pendidikan

Solider.or.id, Malang - Hari Tuli Nasional 2018 secara khusus saya berkunjung ke rumah dua perempuan Tuli di tempat yang berbeda. Ada beberapa kesamaan diantara mereka: sama-sama muda, komunikatif dan cerdas. Mereka adalah Evangelia Sukmadatu Dewantari Putri, alumnus terbaik tahun 2016, Jurusan Sistem Informasi Fakultas Teknik Informatika Universitas Gajayana Malang.

Berikutnya adalah Nurul Khotimah, gadis desa disebuah dusun terpelosok di Kecamatan Lawang Kabupaten Malang. Seusia dengan Eva, sekitar 23 tahun. Sehari-hari Nurul dikenal sebagai anak yang rajin mengerjakan seluruh pekerjaan rumah, dari mengurus dapur, mengurus sapi hingga menjemur padi.

Nurul tidak sekolah, tak tahu baca tulis, hanya bisa menghitung uang saja karena tugas hariannya juga menjaga warung kecil di rumahnya. Menurut orang tua dan para tetangga, Nurul punya ingatan kuat, siapa yang punya utang di warung, kapan dan berapa tanpa ia harus mencatat.

Itulah sekilas gambaran tentang Eva dan Nurul, beberapa persamaan dan satu perbedaan diantara mereka yaitu masalah pendidikan, Eva sarjana dan Nurul tak sekolah, namun keduanya cerdas.

Satu lagi perbedaan, Nurul tak tahu bahasa isyarat Indonesia (Bisindo) apalagi SIBI, berbeda jauh dengan Eva yang anggota Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin) Malang. Pada keduanya saya hanya ingin bertanya: apa makna Hari Tuli bagi mereka?

"Hari Tuli bagi Eva dengan satu harapan bahwa tuli juga bisa dan mampu berprestasi," ujar Eva penuh semangat di kediamannya Kota Malang. Berharap bahwa ada kesetaraan. Seperti lowongan pekerjaan yang lebih baik untuk tuli.

Eva juga berharap pelayanan terhadap tuli ditingkatkan seperti diadakannya juru bahasa isyarat disetiap tempat umum sehingga kemana-mana tidak repot membawa pendamping.

Tentang Sebuah Harapan untuk Masa Depan

"Harapan Eva yang sudah terpenuhi yaitu mampu menyelesaikaan masa studi dengan waktu tepat bahkan menjadi wisudawan terbaik dalam fakultas teknik informatika," kisah Eva.

Inilah tanpa dugaan kalau dipilih menjadi wisudawan terbaik. Hasil kerja keras selama masa studi, walaupun tantangannya berat. Membuktikan bahwa tuli mampu dan bisa. Saya adalah mahasiswa juga alumni tuli pertama di Universitas Gajayana, tukasnya.

"Harapan yang belum terpenuhi yaitu pekerjaan yang layak bagi tuli," lanjut Eva. Di Kota Malang belum ada kesempatan kerja bagi tuli berpendidikan sarjana dan diploma.

Tuli lulusan SMA bisa bekerja di pabrik-pabrik rokok, tapi untuk sarjana belum ada yang mau terima, tutur Eva menginformasikan. Ada perusahaan yang membuka lowongan bagi difabel sarjana, namun yang diterima dari difabel daksa, tuli ditolak.

"Saya sendiri pernah mengalami melamar pekerjaaan di suatu bank yang membuka lowongan khusus bagi difabel daksa," kisah Eva.

Pernah juga melamar kerja di pabrik, ketika ada lowongan di Manajer Traine. Setelah tes tertulis lulus lalu wawancara ditawari penempatan di bagian Operator Produksi dengan gaji setara buruh pabrik biasa. Saya tolak karena ini diskriminasi.

Eva berharap Pemerintah, masyarakat dan perusahaan sadar bahwa tuli memerlukan pekerjaan yang layak sesuai dengan kemampuan dan kesempatan kerja yang sama.

Eva juga menyoroti lowongan kerja CPNS untuk difabel dua persen. Sedangkan menurut WHO jumlah difabel diperkirakan 10- 15 persen.

"Mengapa hanya dua persen, lalu kemana yang delapan persen. Rasanya ini tidak adil," ungkap Eva. Hambatan pada difabel menjadi alasan penolakan kerja, seperti cara komunikasi dan daya pikir yang beda, namun juga punya kelebihan, salah satu menurutnya kalau diberikan tugas pasti dikerjakan sampai tuntas.

Evangelia Sukmadatu Dewantari Putri saat ini bekerja sebagai wirausaha bisnis online. Dimasa depan ia ingin memiliki sebuah perusahaan yang sebagian besar karyawannya tuli dan difabel lainnya.

Makna Hari Tuli

Seperti biasa kedatangan kami (saya dan tim) di rumah Nurul Khotimah disambut dengan ceria. Awal mula mengenalnya adalah informasi dari rekan kerja bahwa di dusunnya ada gadia tuli yang tidak bersekolah.

"Saya tuli, tidak biaa mendengar," ungkap Nurul dalam bahasa isyarat ketika bertemu untuk pertama kalinya. Saya tahu pasti bahasanya bukan Bisindo yang biasa digunakan teman-teman Akar Tuli dan Gerkatin. Ia nampak memegang dadanya lalu menutup kedua telinga, lalu tangan kanan mengisyaratkan tidak bisa dan menutup kedua telinganya lagi.

Sepakat dengan pendapat yang pernah diuangkap Panji Surya Sahetapy bahwa persoalan tuli bukan komunikasi melainkan memahami. Komunikasipun dengan Nurul tak banyak menemui kendala yang berarti. Meski lingkup pembicaraan kami tak pernah jauh dari urusan dapur, jemur padi, sapi dan rumput. Karena memang itulah dunianya berkutat dalam urusan yang sama selama usianya.

Kami pun ngobrol dengan bahasa alami yang tumbuh dengan sendirinya, yang penting bisa saling paham. Dari sinilah hikmah semakin menyadari pentingnya Bisindo yang menghargai setiap perbedaan isyarat kosa kata. Dan tak ada pembahasan makna hari tuli dengannya, karena hari Senin dan Selasa pun ia tak tahu, akibat tidak sekolah.

Beberapa kali saya tunjukkan video demo bahasa isyarat dan kegiatan komunitas tuli. Ekspresinya senang, sambil memegang dadanya, maksudnya: seperti aku. Namun ketika saya bilang mereka akan main kesini, ia hanya menatap ragu: mungkinkah?

Tuli Harus Sekolah

Dalam kesempatan terpisah, Ketua Gerkatin Cabang Malang, Sumiati mengungkapkan pendidikan bagi tuli sangat penting agar mengenal dunia luar, memiliki pengetahuan dan mengenal bahasa isyarat yang sama dengan tuli lainnya.

"Tuli harus sekolah agar bisa mengenal dan komunikasi dengan lainnya," kata Sumiati usai kelas bahasa isyarat di sekretariat Lingkar Sosial.

Mereka yang tak mengenal bahasa isyarat seperti umumnya, misal Bisindo akan berkomunikasi dengan bahasa "tarzan" yang hanya bisa dipahami oleh keluarga dan orang-orang terdekat.

Menurut Sumiati masalah penguasaan bahasa ini membuat keluarga khawatir jika tuli keluar jauh dari rumah, tersesat dan menjadi korban kejahatan. Akibatnya banyak tuli yang dikurung dalam rumah oleh keluarganya. Ia berharap bisa bekerjasama dengan lintas komunitas untuk sosialisasi ke masyarakat dan memberikan pendidikan pada tuli yang tidak sekolah.

Kembali pada makna hari tuli dalam konteks pemenuhan hak pendidikan yang belum merata. Tuli yang mengenyam pendidikan berharap peringatan hari tersebut menjadi momen penting bagi perjuangan kesetaraan hak difabel. Sementara bagi tuli yang tidak sekolah, mereka tak berharap apapun karena mengenal urutan hari pun tidak. Solusinya adalah memastikan implementasi UU Disabilitas agar hak dan harapan tuli dan difabel lainnya dari latar sosial dan pendidikan apapun terpenuhi dan terlindungi. (Ken)

The subscriber's email address.