Lompat ke isi utama
acara hari tuli nasional di Malang

Hambatan Tuli dalam Menyelesaikan Pendidikan di Perguruan Tinggi dan Solusinya

Solider.or.id, Malang - Tuli masih mengalami beberapa hambatan untuk dapat menyelesaikan kuliahnya dengan cepat. Saat ini tuli mahasiswa difabel secara umum masih kesulitan menyelesaikan studinya. Masalah pendidikan ini dibahas dalam diskusi menyambut hari Tuli Nasional 2018 dengan tema Rumusan Hambatan Khusus Tuli dalam Menyelesaikan Pendidikan di Perguruan Tinggi dan Solusinya (11/1) di Kota Malang, melibatkan mahasiswa, alumni perguruan tinggi, penggiat komunitas tuli serta guru SLB.

Diskusi ini dilatarbelakangi oleh masih banyaknya difabel khususnya tuli yang tak kunjung menyelesaikan kuliahnya karena kendala hambatan yang belum sepenuhnya dapat diakomodasi pihak kampus. Dirumuskan hambatan tuli selain masalah penguasaan bahasa secara benar khususnya bahasa Indonesia dalam EYD, juga lingkungan dan situasi belajar mengajar yang tidak inklusif. Terdapat pula sebab lain seperti masalah kurang motivasi dan dukungan keluarga juga kurang fokus pada tugas pendidikan karena aktivitas di luar kampus.

Anggota Bidang Pendidikan Inklusi Forum Malang Inklusi (FOMI) dalam diskusi lintas sektor tersebut mengatakan kebanyakan hambatan yang dialami oleh tuli adalah memahami bahasa Indonesia yang baik dan benar.

"Kebanyakan kesulitan mahasiswa tuli pada pola penulisan skripsi dengan bahasa yang benar," kata Rizal Yahya.

Masalah penulisan kerap kali menjadi alasan dosen menolak isi skripsi atau menyuruh revisi. Sering ditemukan kasus penulisan terbolak-balik antara subyek, predikat dan obyek.

Menurut Yahya, jika persoalan komunikasi khususnya penguasaan penulisan dikuasai maka persoalan lainnya bisa lebih mudah diatasi. Tuli dan nontuli pada prinsipnya memiliki kecerdasan yang setara sesuai dengan IQ dan kemampuan masing- masing, namun untuk masalah penulisan diakui masing menjadi hambatan bagi sebagian tuli.

 

"Hak aksesibilitas belajar mengajar wajib dipenuhi," tegas Yahya. Idealnya sekolah dilengkapi juru bahasa isyarat serta pendamping tuli dalam pengerjaan skripsi dan tugas kuliah lainnya. Namun tandas Yahya yang paling penting adalah situasi belajar mengajar yang inklusif.

Dalam kesempatan yang sama, mahasiwi Universitas Brawijaya, Hufani Septaviasari dan Nur Syamsan Fajrina mengemukakan pendapatnya bahwa persoalan bahasa tidak selalu menjadi masalah mahasiswa tuli.

 

"Hambatan tuli dalam menyelesaikan skripsi maupun tugas lainnya tidak selalu pada persoalan penguasaan bahasa, bisa sebab lain," tutur Hufani. Masalah bisa dari dosen, ada dosen yang bisa memahami hambatan tuli terutama dalam hal bahasa. Ada pula yang tidak menerima dalam arti tahu hambatan tuli dalam kendala bahasa dosen tetap menganggap tuli itu sama dengan non tuli.

"Bisa dibilang dosen itu membimbing mahasiswa tanpa pandang bulu," ungkap Hufani. Pola ini bisa menimbulkan gagal komunikasi antara dosen dan mahasiswa tidak saling memahami. Ia menyayangkan, semua dosen itu mestinya paham terhadap karakter maupun hambatan mahasiswa yang bisa dilihat selama bimbingan.

"Namun ada beberapa dari kami walaupun mengalami kendala bahasa masih bisa lulus tepat waktu," kata Hufani. Untuk kendala penguasaan bahasa Hufani menyarankan untuk memperbanyak membaca buku untuk mendapatkan contoh-contoh penulisan dan penyusunan kata.

 

Pendapat yang sama dikatakan mahasiswi lainnya, Nur Syamsan Fajrina menambahkan faktor lain yang menjadi hambatan tuli dalam menyelesaikan skripsi. Pengurus bidang Aksi Kemanusiaan Akar Tuli ini melihat dari fokus mahasiswa dalam menjalankan tugas-tugas kampus.

"Ada juga yang lulus lambat karena jiwa sosialnya tinggi sering memikirkan atau membantu orang lain daripada dirinya sendiri," kata Aji panggilan akrabnya.

Menurut Aji pengaruh lingkungan karena kecintaan pada lingkungan sosial, kemanusiaan, alam dan lainnya bisa membuat mahasiswa terbagi konsentrasinya. Lebih mengutamakan kegiatan untuk selamatkan bumi dan sampah atau alam sehingga mengabaikan kepentingan diri sendiri.

 

Solusinya tentu membagi waktu dengan baik dan berimbang. Seperti Aji dalam pergerakan sosial ia dikenal sebagai mahasiswi penggiat tuli yang tak hanya aktif memperjuangkan hak-hak tuli melainkan masalah kemanusiaan lainnya.

 

Pada kesempatan lainnya, dosen Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris UB, Alies Poetri Lintangsari MLi, menyatakan penyebab terbolak-baliknya tata kalimat mahasiswa tuli karena perbedaan modal bahasa. Menurutnya, dalam hal tata bahasa, bahasa isyarat dengan bahasa tulis berbeda.

”Logika kenapa tulisan mereka terbolak balik, dari beberapa literatur yang saya baca adalah karena perbedaan modal bahasa,” ujarnya.

Faktor pola pendidikan dan paparan bahasa juga ikut memengaruhi kemampuan bahasa penyandang disabilitas. Anak-anak tuli yang dalam keluarganya sering diekspos untuk menulis kata-kata dengan baik dan benar biasanya akan memiliki kemampuan yang lebih baik daripada yang tidak diajarkan.

Selain tuli mahasiswa UB yang masih kesulitan menuntaskan studinya adalah dari difabel daksa, netra, autis, cerebral palsy, lamban belajar, hingga tunagrahita.

Persoalan pendidikan bagi difabel secara umum masih menyimpan banyak persoalan. Selain faktor aksesibilitas sarana prasarana yang belum terpenuhi juga paradigma pendidik yang belum inklusif sehingga terjadi kasus pembedaan atau diskriminasi terjadi berulang pada setiap tahunnya.

Kembali hambatan tuli dalam menyelesaikan studi di perguruan tinggi beberapa solusi yang ditawarkan adalah pemenuhan hak aksesibilitas tuli seperti juru bahasa isyarat dan pendamping tuli dalam pengerjaan skripsi ataupun tugas, memastikan terciptanya suasana inklusif di kelas dan lingkungan kampus sehingga tuli maupun difabel lainnya merasa nyaman tanpa adanya diskriminasi pelayanan.

Kemudian secara pribadi tuli harus mampu membagi waktu antara kegiatan sosial diluar kampus dan tugas- tugas belajar sebagai mahasiswa serta memperbanyak membaca buku. Dari sisi dukungan keluarga adalah memperkuat modal bahasa melalui kebiasaan ekspos menulis kata-kata secara baik dan benar. (Ken)

The subscriber's email address.