Lompat ke isi utama
suasana ujian nasional 2017 berbasis komputer sumber: http://www.republika.co.id/berita/nasional/daerah/15/04/13/nmr3la-siswa-difabel-di-palembang-ikut-ujian-nasional

Menyambut Sistem CBT di Ujian Nasional 2018: Beginilah Respon Siswa Difabel

Solider.or.id, Yogyakarta - Setiap tahun, Ujian Nasional selalu menjadi komponen penentu kelulusan bagi jutaan pelajar di Indonesia. Dahulu Ujian Nasional menjadi satu-satunya komponen penentu kelulusan siswa di Indonesia, tetapi seiring dengan berjalanya waktu, komponen penentu kelulusan siswa kini tak semata-mata hanya ditentukan oleh Ujian Nasional. Namun begitu, peran Ujian Nasional dalam kelulusan siswa tetaplah cukup penting.

Penyelenggaraan Ujian Nasional, seiring dengan berkembangnya teknologi, kini juga mengalami perubahan. Dulu, pengerjaan Ujian Nasional dilakukan dengan sistem ujian berbasis kertas atau paper based test. Sedangkan saat ini pengerjaan Ujian Nasional diselenggarakan dengan menggunakan sistem ujian berbasis komputer atau computer based test.

Perubahan sistem penyelenggaraan Ujian Nasional dari yang tadinya menggunakan sistem paper based test (PBT) menjadi computer based test (CBT) tentu sedikit atau banyak akan memberikan dampak kepada para peserta. Dalam hal ini perubahan sistem penyelenggaraan Ujian Nasional, hampir dapat dipastikan dampaknya juga akan dirasakan oleh siswa difabel. Hal ini karena terkait tingkat aksesibilitas dalam pengerjaan Ujian Nasional.

Arif Prasetyo, siswa difabel netra kelas XII MAN 2 Sleman yang tahun ini akan menjadi peserta Ujian Nasional menuturkan bahwa sistem penyelenggaraan Ujian Nasional yang diikutinya pada tahun ini berbeda dengan sistem penyelenggaraan ujian nasional yang sebelumnya pernah ia ikuti di jenjang SD maupun SMP. Arif mengaku berubahnya model pengerjaan ujian ini, mau tidak mau mengharuskan para siswa untuk melakukan adaptasi terhadap model yang baru.

Arif mengatakan bahwa sejauh ini dirinya pernah sekali mengikuti simulasi Ujian Nasional berbasis komputer yang diselenggarakan oleh sekolahnya. Sebagai siswa difabel netra, tentu saja ada cara yang berbeda dalam mekanisme pengerjaan soal-soal ujian dibandingkan siswa nondifabel. pada simulasi pertama tersebut, Arif didampingi oleh seorang guru mata pelajaran yang bertugas untuk mendampinginya dalam mengerjakan ujian. guru yang bertugas untuk mendampingi Arif tersebut pada saat ujian akan membacakan soal-soal yang tertera pada layar komputer, karena tidak tersedianya aplikasi screen reader (pembaca layar) dalam komputer yang dipergunakan untuk mengerjakan ujian. Setelah guru selesai membacakan soal, Arif kemudian akan menjawabnya dengan mengetikkan jawaban di keyboard komputer.

Arif berpendapat bahwa guru yang mendampingi siswa difabel saat ujian haruslah guru mata pelajaran yang bersangkutan. “hal ini untuk menghindari kesalahan dalam pembacaan soal ujian. apabila guru yang membacaakan bukanlah guru mata pelajaran yang bersangkutan di khawatirkan akan mengalami kesalahan dalam pembacaan soal sehingga menimbulkan ketidaak nyamanan bagi siswa difabel”.

Secara umum, Arif memberi respon positif terhadap perubahan sistem pengerjaan ujian dari sistem paper based test menjadi computer based test. Menurut Arif sistem computer based test ini memberikan lebih banyak keuntungan. “sistem ujian ini lebih ramah lingkungan karena meminimalisasi penggunaan kertas, meminimalisasi kemungkinan para peserta untuk mencontek dan siswa lebih nyaman dalam pengerjaan soal listening berbahasa inggris karena masing-masing siswa dibekali dengan satu headset sehingga siswa dapat lebih fokus dalam mendengarkan soal”. Terkhusus mengenai sistem computer based test yang mampu meminimalisasi kemungkinan para peserta ujian untuk melakukan pelanggaran seperti mencontek atau saling bekerjasama dengan peserta lainya, Arif mengatakan bahwa sistem ini lebih memberikan keadilan kepada dirinya, karena sebagai siswa difabel seringkali ia kerap dirugikan oleh ulah siswa lainya yang melakukan pelanggaran seperti mencontek. Menurut Arif, saat sistem pengerjaan ujian masih menggunakan sistem paper based test, siswa nondifabel mudah sekali untuk melakukan pelanggaran saat ujian sehingga itu dapat merugikan para siswa difabel.

Satu-satunya hal yang disayangkan oleh Arif dari sistem computer basedd test ini adalah sistem ini belum mampu untuk mengakomodasi kebutuhan difabel agar siswa difabel lebih mandiri dalam pengerjaan ujian. seharusnya komputer yang digunakan dalam ujian CBT dilengkapi dengan screen reader (pembaca layar) sehingga dirinya yang merupakan siswa difabel netra dapat mengerjakan ujian secara mandiri. “kan kalau komputernya dilengkapi dengan screen reader, saya jadi mengerjakan ujian sendiri ya, tanpa harus dibacakan” tutur Arif saat di temui di kosnya

Kedepan, Arif berharap agar pemerinttah dapat mengakomodasi kebutuhan para peserta difabel dalam Ujian Nasional. Misalnya saja dengan menyediakan pembaca layar dalam komputer yang digunakan dalam ujian.

Taufik Rahmadi Sitorus, siswa difabel netra SMAN 1 Sewon Bantul juga mengatakan hal yang senada dengan Arif. Taufik mengatakan bahwa dirinya telah mencoba mengakses software yang dipergunakan untuk mengerjakan Ujian Nasional dengan aplikasi pembaca layar dan hasilnya memang software tersebut tidak dapat diakses oleh pembaca layar. Taufik bahkan sudah mencoba menanyakan hal ini kepada guru TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) yang ada di sekolahnya dan guru yang bersangkutan memberikan jawaban bahwa software yang digunakan untuk mengerjakan Ujian Nasional tersebut telah dikunci sehingga tidak dapat diakses dengan aplikasi pembaca layar.

Menurut Taufik, seharusnya sistem CBT ini dapat memandirikan siswa difabel seperti dirinya. Jika software “Idealnya, sistem CBT ini justru dapat memandirikan siswa difabel seperti saya. Karena sebenarnya hambatan aksesibilitas dapat diatasi dengan adanya teknologi. Apalagi jika aolikasi Exam Browser yang digunakan untuk mengerjakan ujian nasional dapat diakses dengan menggunakan aplikasi pembaca layar dan soal-soal bergambar dalam ujian dilengkapi dengan ilustrasi yang jelas, maka siswa difabel dapat melakukan pengerjaan soal ujian secara mandiri. Aku juga sebetulnya lebih nyaman kalau bisa mengerjakan soal dengan menggunakan pembaca layar” Tegas siswa kelahiran Sumatra Utara ini

kemajuan teknologi membuat sistem Ujian Nasional di Indonesia juga turut mengalami pergeseran. Maraknya penggunaan peralatan teknologi informasi membuat pemerintah sebagai penyelenggara Ujian Nasional turut melakukan sejumlah inovasi. Salah satunya dengan adanya sistem ujian nasional berbasis komputer. Namun sayangnya sistem ujian ini masih perlu penyempurnaan, terutama dalam asoek aksesibilitas terhadap siswa difabel yang akan menjadi peserta Ujian Nasional. (Tio Tegar)

The subscriber's email address.