Lompat ke isi utama
Hidayah Ratna Febriani saat diwawancarai solider di ruang kerja Ida Modiste

Butik Ida Modiste: Bisnis Jahit-Menjahit yang Terus Berkembang

Solider.or.id, Semarang- “Oh, ya malu. Tentu malu.” Ia mengenang masa kecilnya sewaktu menjadi bahan olokan temna-temannya. Ia seorang perempuan yang kini sudah memiliki satu putri berumur 8 tahun, Kalyla Danar namanya. Ia menjadi bahan perundungan hanya karena kondisi fisiknya yang memaksa ia menggunakan brisk sebagai alat bantu dalam kesehariannya.

Sudah 20 tahun masa-masa itu dilewatinya. Ia sudah melupakan semuanya, seiring usaha yang kini sedang dilakoninya. Dengan 15 orang karyawan, dua diantaranya karyawan Tuli. Ia membuka usaha butik yang diberi nama Ida Modiste yang berkantor tak jauh dari rumahnya sekarang, di Jalan Medoho Raya nomor 61, Semarang.

ruang tamu yang difungsikan sebagai ruang kerja bagi para karyawan, ia terlihat sedang melayani tamu dan konsumennya di ruang samping yang ditata sederhana. Dua manequin dengan kebaya karyanya tak jauh dari meja kerja, memberi kesan mewah pada ruang rapi yang bersahaja.

Didampingi Sunar, suaminya yang berprofesi sebagai guru di SLB Negeri Semarang. Ia mengisahkan perjalanan panjang usaha yang dilakoninya. Sambil sesekali melayani tamu yang datang, obrolan santai di sela riuh suara karyawan terasa penuh keakraban. Wajahnya selalu ramah dengan senyum mengembang, kalimat yang terucap penuh kelembutan dengan paras natural sebuah komposisi yang pas sebuah eksederhanaan.

Hidayah Ratna Febriani, biasa disapa Ida, bercerita bagaimana ia terjun di bidang jahit menjahit yang dulu tak pernah jadi impian. “Tidak pernah kepikiran buka usaha jahit. Tidak pernah kepikiran punya karyawan. Semua mengalir. Dan semua karena orangtua yang mengarahkan sehingga saya bisa seperti sekarang,” kisah perempuan yang sangat mengidolakan Anne Avantie (03/01).

Dari sana pula, Ida tertarik mengajarkan secara gratis beberapa ilmu yang ia dapatkan kepada sesama teman-teman difabel. Tak segan, beberapa dari mereka datang ke rumahnya, belajar dan ngangsu kawruh langsung darinya, saat sedang tak melayani banyak pelanggan usaha jahitnya.

Lahir di Semarang, 2 februari 1975, anak kedua dari lima bersaudara pasangan Sudarto dan (almarhumah) Nafisya Umaya. Ida kecil, tak pernah mengira bahwa pada usia tiga tahunnya, folio memaksanya untuk menggunakan brisk sebagai alat bantu berjalan.

“Dulu waktu kecil sering jatuh saat belajar jalan. Lalu demam tinggi dan diperiksakan. Diberi obat kemudian malah kejang. Makin lama kaki saya makin mengecil. Dari situ saya divonis polio.” Ada getar di bibirnya saat mengucapkan itu. Ia merapihkan kerudungnya, berkata “orangtuanya kebesaran jiwa mengajarkannya rendah hati.”  

Ida mendaftar di SMK Negeri Semarang yang sejak dulu jadi diidolakannya. Ia sempat kecewa karena ditolak. Berbekal modal pengalaman dan pengetahuannya, ia nekat memberanikan diri mencari SMK Negeri lain. Hingga kini ia merupakan alumni dari SMK Negeri 2 Semarang.

“Ilmu manajemen yang saya dapatkan sangat berguna untuk dunia usaha yang saya jalani sekarang. Pedoman POAC, Planning, Organizing, Acting dan Controlling ditambah History, nilai sejarah usaha yang kita jalankan menjadi faktor penunjang usaha yang kita kembangkan,” tukasnya, tertawa.

Semasa sekolah ia merasa dijauhi para guru, bahkan dicap sebagai murid yang tidak pernah ikut olah raga dari kelas I hingga kelas III. Nilai pelajaran olah raganya mendapat 5,9.  Padahal guru tahu bahwa dengan kondisi seperti saya bisa ikut olah raga,” lagi-lagi ia terkekeh.

Selepas berporses di SMK, Ida melanjutkan kuliah di fakultas Ekonomi Universitas UNDIP dengan mengambil jurusan Akuntnasi. Namun hanya bertahan sampai satu tahun. Orangtuanya menyarankan agar ia mengikuti kursus saja yang dianggap memberikan bekal masa depan.

Ia menurutinya. Ia mengambil beberapa kursus untuk dipelajarinya. Kursus kecantikan, kursus membuat kue dan kursus jahit yang kelak ternyata telah merubah masa depannya. “Dapat saran kalau mau kursus jahit cari yang menjahit dengan sistem Belanda. Alasan utamanya karena pola jahitan model Belanda nyaman saat dikenakan, terutama untuk mereka yang memiliki badan super atau besar.”

Dari sinilah jahitannya mulai laku karena banyak yang merasa nyaman dan cocok saat menggunakan. Ida memberi bocoran dari rahasia jahitan yang dia gunakan. Meski tak pernah diijinkan mengenal dunia kerja di luaran, Ida selalu bersyukur telah menuruti pesan yang sekaligus jadi larangan dari almarhum Kakek dan Ibunya.

“Bagi saya pelanggan adalah segalanya. Dari mereka saya mendapat banyak ilmu dan pengalaman berharga. Pelanggan telah mengajarkan banyak pelajaran,” kata Ida.

Ia masih ingat pelanggan pertamanya adalah tetangga depan rumah yang kebetulan memiliki usaha jahit. Mereka memintanya untuk menjadi penjahitnya. Ia merasa bangga kala itu, produksi pertamanya dirasa cocok dan nyaman dikenakan oleh pelanggannya.

Sampai sekarang, masih banyak tetangga yang jadi pelanggannya. Pelanggain lain mulai berdatangan seiring promosi dan produksi yang dijalankan. Ia menganggap usaha Ida Modista yang semakin besar dan berkembangh ini, tidak lepas dari peran orangtua dan kakek yang mengarahkan dan mendoakannya.

Adzan sholat ashar berkumandang. Satu demi satu karyawan berpamitan. Tanpa terasa ruang kerja Ida Modiste sudah lengang. [Yanti]

The subscriber's email address.