Lompat ke isi utama
difabel netra sedang menikmati inovasi teknologi

Inovasi dan Teknologi Permudah Difabel Netra, Orientasi dan Mobilitas tetap Jadi Modal Utama

Solider.or.id, Malang - Difabel netra makin dimudahkan oleh kemajuan teknologi. Jika dulu kemana-mana sangat bergantung dengan tongkat yang disertai aksesoris logam yang bisa menghasilkan bunyi-bunyian sebagaimana amanah Keputusan Menteri Perhubungan Nomer 6 Tahun 1994. Kini bisa tampil lebih keren dan mudah berkat kemajuan teknologi. Meski demikian, menurut pengakuan beberapa pegiat difabel, kemampuan difabel netra untuk menguasai orientasi dan mobilitas adalah hal yang wajib.

 

Sekelompok mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengembangkan produk inovasi kacamata pendeteksi uang yang disebut Kacamata Sensor Tunanetra (Kasentra).

Mereka adalah Yoga Adi Wijaya dan kawan-kawan mahasiswa program studi Teknik Industri (TI) UMM. Gagasan muncul dari maraknya kasus penipuan pada difabel netra yang berprofesi sebagai pemijat, khususnya saat melakukan transaksi keuangan.

"Ternyata uang yang dibayarkan kepada pemijat difabel netra itu tidak sedikit yang palsu," tutur Yoga, Sabtu (6/1) di kampus UMM.

Cara kerja alat cukup dengan mengarahkan pandangan kacamata ke arah jumlah uang, maka akan mengeluarkan suara berupa nominal uang tersebut. Praktisnya alat ini tidak perlu menggunakan alat pendukung lain misalnya smartphone atau alat lain yang lebih mahal.

Anggota tim lainnya, Bagus Arif menjelaskan tentang efisiensi dan nilai tambah alat tersebut. "Selain desain yang gampang dibawa, harga pembuatan alat ini juga murah jika nanti akan dikomersilkan," katanya.

Kaca mata lainnya, K-NETRA merupakan karya lima mahasiswa Fakultas Teknik UGM yang berfungsi mendeteksi benda dalam jalur gerak difabel netra. Mampu mengidentifikasi benda mati atau makhluk hidup, serta tracking keberadaan penggunanya sehingga lokasi dan jalur yang ditempuh dapat diketahui dari ruang server secara real time.

 

Ahmad Andriyanto salah satu anggota tim menjelaskan cara kerja kacamata yang memakai mikrokontroller arduino uno ini.

"Ketika terdapat suatu objek dihadapan “K-Netra”, maka sensor akan memberikan sinyal yang menjadi inputan untuk mikrokontroller. Jika mikrokontroller sudah mendapatkan inputan, maka langsung di teruskan ke buzzer. Sementara Buzzer akan memberikan suatu informasi tentang keberadaan objek yang tertangkap oleh sensor SRF-04," tutur Ahmad.

Teknologi berikutnya dari Semarang yaitu Jetnet atau Jaket difabel netra yang berguna untuk mengarahkan navigasi dan gambaran benda-benda di sekitar melalui suara yang muncul di earphone. Penciptanya adalah Tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Undip yang terdiri dari 4 mahasiswa Teknik Elektro Universitas Diponegoro (Undip) Semarang

"Ada delapan sensor jarak HC-SR04 yang kami tanamkan dalam prototype Jetnet digerakan dengan processor Arduino Uno yang kemudian memiliki output berupa suara dari earphone yang tersambung dengan modul MP3 dengan sumber tenaga baterai 7,2V berkapasitas 1800mAh," jelas Teguh Kurniawan salah seorang anggota tim.

Sensor itu mampu mendeteksi benda apapun bahkan lubang di jalan, mendeteksi objek yang berada di depan, serong kanan, serong kiri, kanan, dan kiri dalam radius 3 meter serta mengetahui elevasi kemiringan jalan.

Kembali ke Jawa Timur, tepatnya di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Lima orang mahasiswanya membuat sandal khusus difabel netra atau Santun yang dilengkapi sensor berbasis Android, untuk mengarahkan pengguna mengetahui halangan jalan yang ada di depannya.

Ketua tim Santun, Ade Ria Hasanah, menjelaskan, pada bagian kiri dan kanan diletakkan sensor jarak tipe HC-SR04 yang bisa mendeteksi rintangan hingga jarak 5 meter. Sensor menginformasikan pengguna lewat suara untuk berhati-hati jika di kiri atau kanan terdapat rintangan, dengan suara awas kanan atau awas kiri.

 

"Jadi pengguna bisa mengetahui objek di depan melalui suara. Itu memudahkan mereka untuk menghindari sesuatu," ujar mahasiswa semester IV tersebut.

 

Sandal ini praktis, karena berasal dari sandal biasa yang dimodifikasi. Dipilih dengan alas yang terbuat dari bahan karet dan berhak tinggi agar bagian bawah bisa dilubangi untuk memuat sensor dan mikrokontroler.

Temuan para mahasiswa ini tentu membanggakan. Satu sisi membuktikan kecerdasan dan kreativitas anak muda sisi lainnya adalah membuktikan bahwa mereka memiliki kepekaan terhadap upaya mempermudah akses mobilitas bagi difabel netra.

 

Keterampilan Orientasi dan Mobilitas tanpa Teknologi Tetap Prioritas

Apapun bentuk teknologi hari ini, kemandirian orientasi dan mobilitas tanpa teknologi bagi difabel netra sangat diperlukan. Teknologi canggih masih tetap memiliki celah kelemahan yang tak dapat menggantikan keterampilan dasar difabel netra khususnya yang berkaitan dengan intelegensia, kepekaan dan kecekatan. Misal teknologi berbasis android, ketika sinyal mengalami gangguan atau alat hilang akan menjadi masalah besar bagi pengguna yang tak memiliki keterampilan orientasi dan mobilitas.

"Penguasaan orientasi dan mobilitas sangat penting karena difabel netra memang dididik untuk mandiri, meski sebagai makhluk sosial tetap memerlukan bantuan orang lain, " terang Sekretaris Persatuan Tuna Netra Indonesia (Pertuni) Malang, Imam disela kesibukannya.

 

Penting menguasai orientasi dan mobilitas, tandas Imam, yaitu materi pengenalan pergerakan dan lingkungan bagi difabel netra. Alat utamanya tongkat putih yang dipergunakan untuk pergerakan di luar ruangan, membantu mendeteksi sekitar dan jalan yang akan dilalui. Sedangkan dalam ruangan memerlukan kepekaan agar tak mudah menabrak isi ruangan juga hafal tata letak sehingga mengurangi ketergantungan pada orang lain.

Lebih dalam anggota Bidang Pendidikan Inklusi Forum Malang Inklusi (FOMI), Adi Gunawan memaparkan aspek internal dan eksternal penunjang aksesibilitas dan mobilitas difabel netra.

"Aspek internal adalah kemampuan orientasi mobilitas termasuk cara menggunakan tongkat, mempelajari ruangan ruangan baru, cara berjalan yang aman, baik untuk diri sendiri dan orang lain, cara menganalisis tempat dari segi suara, rabaan, dan sebagainya," jelas guru privat braille ini.

Aspek tersebut diperlukan difabel netra untuk mengakses semua tempat termasuk tempat baru. Selanjutnya, aspek eksternal yaitu sarana prasarana dan respon masyarakat.

Khususnya di Kota Malang, Adi menilai tempat umum seperti mall, kantor pemerintahan juga transportasi belum aksesibel bagi difabel netra. Sementara untuk respon masyarakat masih cenderung pasif karena minimnya pengetahuan sehingga tak tahu yang harus dilakukan. Ia berharap pengetahuan tentang berbagai kebutuhan difabel netra bisa lebih disosialisasikan serta pemenuhan hak aksesibilitas pada fasilitas umum oleh pemerintah. (Ken)

The subscriber's email address.