Lompat ke isi utama
trotoar berbahaya di Mojokerto diberi pagar

Trotoar Berbahaya bagi Difabel di Kota Mojokerto Akhirnya Dipagar

Solider.or.id. Mojokerto - Trotoar dengan guiding block di Kota Mojokerto yang ramai dibicarakan atau viral karena berbahaya bagi masyarakat khususnya difabel netra akhirnya diberi pagar oleh pihak terkait kemarin sore. Pantauan di lapangan, Kanit Dikyasa Satlantas Kota Mojokerto Ipda Retno A bersama Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kota Mojokerto (9/1) melakukan survei dan koordinasi pada jalur pendestrian yang dimaksud.

Sumber Satlantas Kota Mojokerto dari hasil koordinasi menginformasikan bahwa jalur pemandu difabel netra yang bermasalah tersebut memang belum selesai dibangun dan masih akan dilanjutkan. Namun tidak dijelaskan lebih lanjut waktu pengerjaan berikutnya.

Kondisi di lapangan, guiding block tersebut langsung menjurus dan berakhir ke sungai. Rencananya terdapat pagar pembatas antara trotoar dengan sungai untuk mencegah terjadinya kecelakaan pejalan kaki maupun pengendara. Apalagi letak trotoar yang bertepatan dengan lampu merah dan zebra cross atau penyebrangan bagi pejalan kaki.

"Tentu saja sangat senang dengan adanya gerak cepat pihak terkait yang menutup trotoar berbahaya tersebut," kesan pengguna jalan Valen Tino (8/1) di lokasi Jalan Gajah Mada, Gedongan, Magersari, Mojokerto, tak jauh dari beberapa orang pekerja yang sedang membangun pagar pembatas trotoar dan sungai.

Seperti diberitakan sebelumnya, Tino panggilan akrabnya adalah pria yang pertama kali mengunggah foto di media sosial kemudian disebarluaskan oleh netizen (warga net) lainnya hingga menjadi viral.

Tujuan mengunggah foto di media sosial tersebut, kata Tino untuk memberitahukan agar pengguna jalan khususnya difabel netra berhati-hati melewati jalan tersebut. Sudah seharusnya masyarakat ikut mengawasi fasilitas umum yang dibuat pemerintah, bila ada kekurangan wajib saling mengingatkan. "Harapannya kota lain juga seperti ini," pungkas Tino.

Tidak menutup mata pembangunan trotoar asal jadi banyak ditemukan di berbagai tempat. Termasuk pemasangan guiding block yang tidak sesuai dengan standar aksesibilitas. Ironinya di beberapa tempat fasilitas umum yang tidak akses tersebut dikampanyekan melalui media sebagai fasilitas ramah difabel.

Sosialisasi standar aksesibiltas fasilitas umum yang diatur dalam Permen PU Nomer 30 Tahun sudah semestinya makin digiatkan agar masyarakat bisa menjadi fungsi kontrol pembangunan. Tentang standar aksesibilitas bisa didownload melalui link ini: http://www.pu.go.id/satminkal/itjen/lama/hukum/pm30-2006.pdf (Ken)

The subscriber's email address.