Lompat ke isi utama
Ibu Suprihatin, dalam obrolannya bersama Solider, Minggu (7/1/2018) di rumahnya yang sedang dalam renovasi

Suprihatin, Membagi Sama Cintanya kepada Kedua Putrinya

Solider.or.id.Kulon Progo. Bagi seorang ibu, anak adalah segalanya. Apapun akan dilakukan demi anak tercinta. Mulai dari doa, tenaga, pikiran, waktu, bahkan air mata, akan dan selalu diberikan secara tulus demi kebahagiaan buah hatinya. Sejak dalam kandungan hingga dewasa kasih sayang seorang ibu tak pernah berhenti mengalir, demikian tidak pernah pula membedakan antara anak satu dengan yang lain.

“Anak adalah anak, mereka kebanggan dan kebahagiaan bagi saya, ibunya. Kasih sayang yang saya berikan sama persis antara Vican dengan Sofie. Dan saya sangat bahagia melihat Vican yang sangat menyayangi adiknya, Sofie, yang seumur hidup tidak bisa mandiri.” Demikian ungkapan mendalam Suprihatin, ibu dari Sofie difabel Cerebral Palsy (CP) berat, dan Vican yang saat ini berstatus mahasiswa. Kepada Solider, Minggu (7/1/2018) Suprihatin menuturkan.

Suprihatin (50) merupakan keluarga difabel miskin, warga dusun Banyunganti Lor, RT 39/18, Kali Ageng, Sentolo, Nanggulan, Kulon Progo. Setelah suaminya yang bernama Sumaryanto meninggal pada tahun 2007, praktis seluruh tanggung jawab sebagai orangtua dan bersosial masyarakat, harus dipikulnya sendiri.

Bersama dua orang putrinya, Suprihatin tinggal di sebuah rumah yang tidak memenuhi standar kesehatan, kelayakan, dan kenyamanan sebuah tempat tinggal. Berbilik bambu usang yang sudah rapuh dan berlubang di mana-mana, dengan lantai tanah gembur yang basah, ketika hujan air akan menggenangi seisi rumah. Rumah itu juga tidak memiliki kamar mandi, tanpa sekat antara ruang satu dengan yang lainnya. Sebagaimana diwartakan dalam tulisan sebelumnya, rumah Suprihatin merupakan satu di antara tiga rumah yang direnovasi atas inisiasi Komunitas Bersyukur dan Berbagi (B & B).

Putri pertamanya biasa disapa dengan Vican (21), merupakan mahasiswi sebuah perguruan tinggi swasta di Yogyakarta, program studi Matematika dan IPA (MIPA). Sedangkan putri keduanya disapa dengan Sofie (19), ialah seorang gadis dengan Cerebral Palsy (CP) berat, yang membutuhkan perawatan atau membutuhkan bantuan orang lain sepanjang hidupnya.

Buruh menganyam pandan merupakan mata pencaharian Suprihatin, selain menganyam, ibu paruh baya itu Berternak kambing, di samping tanggungjawab pokok menjaga Sofie, anak gadisnya yang hanya mampu rawat.

Pada kunjungan Solider hari Minggu (7/1/2017) Suprihatin menceritakan bahwa pekerjaan menganyam dikerjakan sembari menjaga Sofie, serta kegiatan lain yaitu merumput untuk pakan ternak kambing. Sehingga, kata dia hasil anyamannya tidak banyak, karena tidak bisa maksimal waktunya.

Adapun hasil anyaman pandan akan dibeli oleh juragan atau pemilik bahan dasar pandan, dengan harga tujuh ribu rupiah per kilo gram. Karena tidak maksimal, dalam sebulan Suprihatin hanya mampu menghasilkan lima kilo gram anyaman pandan. Praktis pendapatan dari menganyam pandan sangat kecil, yakni sebesar 35 ribu rupiah saja.

Dan setiap bulannya keluarga itu rata-rata menerima 7 hingga 7,5 kilo bantuan beras miskin (raskin) dari pemerintah. Selebihnya, keluarga ini mendapatkan Kartu Indonesia Sehat (KIS) guna pemeriksaan kesehatannya.

Keyakinannya adalah kekuatannya

Dalam kondisi yang serba terbatas itu, semangat mendampingi kedua putrinya nyata tergambar. Sabar, berdoa, tidak berkeluh kesah, yakin bahwa setiap kebutuhannya akan dicukupkan oleh Sang Pencipta, itulah prinsip Suprihatin.

Jika dikalkulasi, pendapatannya sangat tidak masuk akal dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Tapi sebuah keyakinan bahwa semua pasti ada jalan keluarnya, menjadi kekuatan dalam membersamai kedua putrinya.

Satu harapan yang tidak pernah putus dipanjatkan melalui doa-doanya, ialah keberhasilan putri pertamanya, Vican. Dia berharap setelah lulus kuliah nanti, anaknya bisa bekerja sebagaimana keahlian dan kemampuannya, sehingga dapat membantu keluarga lain seperti keluarganya. Adapun harapan dan doa bagi Sofie, ialah selalu sehat, kuat menghadapi apapun.

“Doa saya yang tidak putus saya minta setiap saat, setelah selesai kuliah, Vican dapat menjadi guru sebagaimana cita-citanya. Kemudian dia bisa membantu keluarga lain yang memiliki anak CP berat sebagaimana Sofie. Sofie sendiri dan kami semua selalu sehat, kuat melewati apapun,” tutur Suprihatin sambil berurai air mata.

Gambaran kisah tersebut merupakan fakta yang terhadi di masyarakat. Masih banyak masyarakat rentan yang belum mampu memenuhi kebutuhan hidupnya, bahkan untuk kebutuhan dasar sekalipun. Lebih-lebih hal ini sering menimpa keluarga dengan difabel. Hambatan aksesibilitas, serta berbagai kondisi yang membuatnya rentan, menjadikan keluarga tersebut semakin jauh dari kata layak dalam hidupnya. Melihat hal ini, seharusnya pemerintah berperan lebh aktif lagi untuk dapat mengentaskan warganya dari kehidupan yang sangat tidak layak dan menjadikannya keluarga yang paling tidak dapat memenuhi kebutuhan dasarnya. (Harta Nining Wijaya)

The subscriber's email address.