Lompat ke isi utama
Para pemain sirkus di dalam film The Greatest Showman sedang foto bersama (kredit foto: vogue.com)

The Greatest Showman: Pertunjukan Sirkus yang Melawan Kenormalan

Solider.or.id, Surakarta- Sirkus tidak hanya menjadi muara tawa atau sebuah ruang hiburan pengalihan manusia dari dunia yang kacau balau. Namun, di tangan sutradara Michael Gracey, sirkus menjadi sesuatu yang satir dan melawan.

Pernah tercatat menjadi tokoh kontroversi dalam sejarah kebohongan publik demi usaha jasa hiburan (sirkus) Phineas Taylor Barnum, kini menjadi sosok yang positif di film The Greatest Showman.

Ia seorang pertama Amerika yang menggeluti dunia hiburan dengan cara yang tidak lazim. Mengumpulkan dan menyatukan orang-orang berpenampilan fisik aneh atau unik dalam gelaran sebuah pertunjukan.

Mulai dari little people hingga perempuan berjenggot, manusia bulu, manusia tertinggi, manusia dengan berat badan lebih dari maksimal, termasuk kakak-beradik kulit hitam pengusung atraksi semacam sirkus yang memiliki formasi seperti bentuk trapesium atau disebut dengan istilah trapeze.

Ia menemui seorang little people berikut orangtuanya di sebuah kantor bank. Ia menuturkan maksud kedatangannya untuk mengajaknya dalam sebuah pertunjukan. Mulanya sang tuan rumah tak sanggup menerima ajakan tersebut karena hanya akan menjadi bahan tertawaan penonton. Meski akhirnya ia berhasil meyakinkan, dengan menjelaskan konsep pertunjukannya.

Usaha Barnum dalam pencarian orang-orang unik tidak hanya sampai di situ. Ia menempel poster-poster dengan seting 1840an yang tampak nyata dan klasik di setiap sudut jalan. Hingga ia menemukan Lettie Lutz, perempuan berjenggot dan berbadan bongsor yang memiliki talenta menyanyi.

“Dunia ini malu pada kita, tapi Anda membuat kita menjadi sorotan. Anda memberi kami keluarga yang nyata,” kata Lettie Lutz kepada Barnum dalam kutipan film The Greatest Showman. Lettie memuji karena dia merasa keberadaannya mendapatkan penerimaan dari masyarakat.

Kehidupan Barnum dengan orang-orang luar biasa di sekelilingnya dalam adegan-adegan dan lantunan musik yang sangat rancak dan rapi, dikemas sang sutradara Michael Gracey. Sederhana namun menarik untuk dinikmati. Suatu gambaran yang liyan dari yang lain. Memberikan pemahaman baru tentang “ketidakwajaran” yang hidup dan melawan “kenormalan.”

Menghilangkan stigma, setidaknya itulah kunci yang ingin dihadirkan Barnum. Meski dengan cara yang bisa jadi dibilang menyimpang, namun kehadiran mereka dikemas dalam bentuk hiburan.

Ia menghadirkan konteks sejarah pada 1840an, di mana orang-orang yang memiliki keunikan jarang diketahui keberadaannya. Difabel dipandang sebagai individu unik dan langka, yang masih dipertontonkan dengan menitikberatkan pada keadaan fisik mereka. Bukan sebagai manusia yang memiliki kemampuan berbeda. Mereka tersisihkan dari kehidupan sosial.

Namun kini, bersama Burman, mereka berani untuk keluar rumah dan ‘mempertontonkan’ kebolehan mereka dalam berekspresi melalui sebuah pertunjukan sirkus. The Greatest Showman ingin mengubah itu, menegaskan bahwa keberadaan difabel bukan lagi dipandang sebagai hal aneh dan unik, tetapi manusia seutuhnya, setara dan masuk dalam peradaban yang memiliki daya dan kemampuan.

Di satu sisi pertunjukan sirkus dekat dengan rakyat, meski keberadaannya tidak luput dari kontroversi. Itu terlihat dalam adegan pertunjukan bintang baru, penyanyi Jenny Lind dengan pesona suaranya yang sangat merdu dipadu kecantikan wajah yang mempesona. Namun para tamu terkaget, dengan mimik muka heran dan merasa jijik. Adegan yang menjadi tanda bahwa stigma itu masih ada.

James Gordon Bannett, kritikus seni menulis di koran New York Herald bahwa Barnum membawa kebohongan besar. Namun jawaban Barnum telah menyentaknya, “kesuksesan datang dalam senyuman orang-orang yang menghadiri pertunjukan.”

Film The Greatest Showman layak dinikmati sebagai film hiburan yang mendidik. Film biografi,bergenre drama musikal ini menempatkan difabel, orang-orang yang memiliki kebutuhan/kemampuan yang berbeda untuk tampil di atas panggung. Menariknya keluar dari kungkungan dan stigma serta diskriminasi melalui gelaran seni pertunjukan. Tanpa sedikitpun merendahkan martabat.

 

Judul Film: The Greatest Showman | Tanggal rilis: 25 Desember 2017 | Tayang di Indonesia: 29 Desember 2017 | Genre: Biography, Drama, Musikal | Sutradara: Michael Gracey | Durasi: 1 jam 43 menit | Peresensi: Puji Astuti.

The subscriber's email address.