Lompat ke isi utama
Pelatihan bahasa isyarat di Malang

Peluang dan Tantangan Bisindo Menjadi Bahasa Isyarat Nasional

Solider.or.id, Malang. Bahasa isyarat dikenal sebagai sarana komunikasi tuli yang mengedepankan bahasa tubuh dan gerak bibir, mengkombinasikan gerakan tangan serta ekspresi wajah. Dihasilkan berdasarkan pengalaman dan pemantauan indera penglihatan terhadap segala objek dan peristiwa yang dijumpai sehari-hari yang diaktualkan dalam gerak tubuh dan tangan, mimik muka dan sebagainya.

Seperti halnya bahasa lisan, isyarat satu tempat berbeda dengan lainnya. Misal bahasa isyarat Malang berbeda dengan Jambi. Demikian pun antar negara, contohnya Amerika Serikat dan Inggris, meskipun memiliki bahasa tertulis yang sama, namun memiliki bahasa isyarat berbeda yaitu American Sign Language dan British Sign Language.

Di Indonesia dalam komunikasi tuli terdapat Sistem Bahasa Isyarat (SIBI) dan Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo). Perbedaan mendasar secara teknis dalam komunikasi SIBI menggunakan abjad sebagai panduan bahasa isyarat tangan satu, sementara Bisindo menggunakan gerakan kedua tangan.

Secara historis, menurut peneliti dari Laboratorium Riset Bahasa Indonesia (LRBI) di Universitas Indonesia, Pheter Angdika SIBI diambil dari bahasa isyarat Amerika Serikat ditambahkan imbuhan awal dan akhir. SIBI merupakan sistem isyarat (bukan bahasa isyarat) yang dibuat orang-orang dengar tanpa melibatkan tuli dalam pendidikan luar biasa.

"Dalam komunikasi sehari-hari masyarakat tuli lebih banyak menggunakan Bisindo daripada SIBI," ujar anggota Bidang Sosialisasi Bisindo Forum Malang Inklusi (FOMI) Rizal Yahya, didampingi Ketua Gerkatin Kota Malang, Sumiati saat ditemui di Sekretariat Gecama, Malang (4/12).

Menurut Yahya, Bisindo lebih friendly (Red: memasyarakat). Indikatornya, masyarakat hearing (yang bisa mendengar) lebih cepat menguasai alfabet Bisindo daripada SIBI. Bisindo ada secara alami dan tersepakati dari hasil komunikasi antar tuli secara terus menerus dan berkelanjutan. Kosa kata baru disepakati antar tuli atau dalam komunitas lalu disebarluaskan.

Yahya, guru di SMALB kota Malang itu berharap Bisindo bisa masuk dalam kurikulum pendidikan luar biasa. Ia dan beberapa guru lainnya secara inisiatif berupaya untuk mulai memperkenalkan Bisindo kepada murid-muridnya.

Dalam kesempatan yang sama, anggota bidang Pendidikan Inklusi Forum Malang Inklusi (FOMI), Dewi Ratna Sari mengakui bahwa Bisindo lebih banyak digunakan dalam komunikasi sehari-sehari. "Utamanya para tuli dewasa dalam kehidupan sehari-hari dan juga dalam komunitas percakapan menggunakan Bisindo," jelasnya.

Demikian pula para juru bahasa isyarat turut menggunakan Bisindo mengikuti tren komunikasi tuli saat ini. "Kecuali anak-anak mereka masih menggunakan SIBI karena pengaruh pelajaran sistem isyarat di SLB," lanjut Dewi, yang juga guru SLB di kabupaten Malang. Meski diluar sekolah anak-anak tuli mulai ikut menggunakan Bisindo.

Hambatan tuli dalam komunikasi

Humas Akar Tuli, Hufani menilai SIBI dan Bisindo sebagai alat komunikasi masing-masing memiliki kelebihan dan keterbatasan serta mensikapi keragaman isyarat berharap ada rumusan untuk bahasa isyarat pemersatu. "Contohnya SIBI sulit dipahami tapi kosa katanya banyak dan bisa membantu teman-teman tuli mengatasi masalah kendala bahasa tulisan yang terbalik.”

Menurutnya salah satu persolan tuli dalam bahasa penulisan adalah penyusunan kata dalam kalimat yang terbolak-balik karena minimnya kosa kata. Sedangkan Bisindo, lanjut Fani panggilan akrabnya, memiliki kosa kata lebih sedikit tapi lebih mudah dipahami dan dipelajari oleh tuli maupun non tuli. Untuk kemampuan menyusun kalimat dalam tulisan, ia menyarankan agar tuli gemar membaca untuk memperkaya kosa kata dan memperoleh contoh penyusunan kalimat.

Hal senada juga dikatakan Umi Indriana, anggota Kelompok Kerja Difabel Lingkar Sosial. Ia seorang tuli yang mampu menjadi mediator komunikasi tuli dan non tuli dalam kelompok kerja. Menurutnya tuli dalam praktiknya harus banyak membaca dan menulis bahasa Indonesia sesuai EYD serta belajar bahasa oral.

"Perlu ada perbaikan kurikulum bahasa Indonesia supaya tuli wajib dan terbiasa menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar," tandas Umi.

Koordinator Media Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel (SIGAB), M. Ismail mengatakan hambatan komunikasi sekaligus tantangan untuk mengembangkan bahasa isyarat di antaranya keanekaragaman Bisindo dari berbagai daerah.

"Perbedaan bahasa isyarat, hal ini dianalogikan dengan bahasa Sunda, Jawa, Batak, Minang dan lain-lain," kata Ismail. Membiarkan bahasa isyarat daerah berkembang sendiri, dengan nama yang berbeda sesuai kota maupun provinsi seperti Bisindo Solo, Bisindo Yogyakarta, Bisindo Jakarta, Bisindo Bandung, Bisindo Bali, Bisindo Makassar mewakili propinsi Sulsel dan lainnya.

Ismail juga menepis kekhawatiran salah paham antar tuli karena beda bahasa. Menurutnya, tuli di berbagai daerah apabila bertemu tidak akan mengalami kendala. Mereka sama-sama mengerti dan saling beradaptasi secara cepat sehingga memperkaya khazanah bahasa isyarat yang ada.

"Lebih mudahnya bahasa isyarat daerah dipersatukan sehingga ada kesinambungan komunikasi," tutur Ismail. Prosesnya dilakukan secara bertahap dan hambatannya antara lain peran juru bahasa isyarat yang membantu tuli yang berdomisili tidak tetap, sehingga sulit beradaptasi dan memahami bahasa isyarat di berbagai tempat.

Ismail berpendapat, langkah awal menyusun bahasa isyarat nasional bisa melalui forum pertemuan antar tuli di berbagai daerah. Sampai pada disepakatinya bahasa isyarat nasional. Meski demikian bahasa isyarat daerah harus tetap dipertahankan sebagai bentuk keberagaman.

Perjuangan tuli untuk pengakuan bisindo

Menilik sejarah pergerakan tuli, salah satu tokoh dalam gerakan tuli Aek Natas Siregar pernah menemui presiden Sukarno untuk menyampaikan keinginannya memajukan masyarakat tuli. Didampingi temannya Mumuk Wiraadmaja pada 1 Februari 1961. Mereka diterima oleh presiden Sukarno di ruang tamu Istana Negara RI.

Aek menyampaikan bahwa tuli belum mendapatkan kesetaraan, utamanya di bidang pendidikan. Tuli sulit menempuh pendidikan yang lebih tinggi. Menanggapi hal tersebut, presiden pertama ini, melalui tulisan tangannya pada secarik kertas menyampaikan bahwa beliau memberikan dukungan dan perhatian untuk masyarakat Tuli agar dapat maju.

Almarhum Aek Natas Siregar bersama kawan-kawan juga tercatat sebagai pendiri Serikat Kaum Tuli Bisu Indonesia disingkat SEKATUBI di Bandung pada 11 Januari 1961. Perjuangan ini kemudian dikenang sebagai Hari Tuli Nasional yang ditetapkan dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Gerkatin, September lalu di Hotel Lotus Garden, Kediri.

Pergerakan tuli untuk kesetaraan hak sebagai warga negara masih berjalan hingga saat ini. Terkait Bisindo, lintas komunitas tuli di berbagai daerah terus mengkampanyekannya. Mereka ingin bahasa alami warga tuli tersebut mendapat pengakuan pemerintah, sama dengan bahasa lainnya yang diajarkan di sekolah- sekolah dan diwajibkan ada pada setiap acara, utamanya yang melibatkan tuli.

Ismail kembali mengatakan, mengamati pergerakan tuli dalam memperjuangkan Bisindo di berbagai daerah Indonesia di antaranya melalui media sosial. "Salah satunya Gerkatin bergerak melalui forum-forum termasuk Kongres Bahasa Indonesia Oktober mendatang," ujarnya.

Di Malang, dalam kesempatan Seminar Nasional RPP Akomodasi yang Layak Bagi Peserta Didik Difabel beberapa minggu lalu di Fakultas Hukum Universitas Brawijaya. Saya menginformasikan progres pergerakan masif, terutama komunitas tuli di FOMI yang bergabung dengan lintas organisasi lainnya. Hal itu untuk meminta pemerintah segera membentuk Unit Layanan Difabilitas. Tidak hanya untuk tuli melainkan untuk semua difabel, sesuai amanah UU Disabilitas tahun 2016.

Pemerintah kota Malang merespon baik. Mereka berjanji akan membangun Unit Layanan Disabilitas di setiap kecamatan. Setidaknya dari Universitas Brawijaya sendiri telah menindaklanjuti pengadaan Rumah Layanan Disabilitas di kampusnya yang telah diresmikan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani, Jumat (5/1). Di dalam Rumah Layanan Disabilitas terdapat kursi roda pintar, buku-buku braille dan layanan konseling, serta fasilitas lain.

Satu poin baik di awal 2018, bagi pergerakan komunitas tuli. Bagi saya, hal yang perlu digarisbawahibagi tuli yakni memperjuangkan Bisindo agar masuk dalam payung hukum yang ada, bahwa negara menjamin bahasa isyarat adalah hak tuli. Tuli wajib tahu dalam UU Disabilitas, dengan pasal 41 bahwa:

Pemerintah wajib menfasilitasi penyandang disabilitas untuk mempelajari keterampilan dasar yang dibutuhkan untuk kemandirian dan partisipasi penuh dalam menempuh pendidikan dan pengembangan sosial.

Termasuk di antaranya keterampilan bahasa isyarat dan pemajuan linguistik dari komunitas tuli. Dalam bagian penjelasan pasal demi pasal, yang dimaksud dengan bahasa isyarat termasuk bahasa isyarat Indonesia atau Bisindo.

Langkah riilnya saat ini tinggal mendorong bagaimana Bisindo bisa masuk kurikulum sekolah-sekolah, menjadi bahasa wajib dalam setiap pertemuan, adanya juru bahasa isyarat dan fasilitas akses tuli di setiap tempat publik serta implementasi lainnya. Juga mendorong upaya-upaya pengembangan Bisindo termasuk peluang adanya bahasa isyarat nasional. [Ken]

The subscriber's email address.