Lompat ke isi utama
Para pengunjung sedang menikmati kopi di kafe Mbok Kom

Bisnis Kafe MBOK KOM: Lahir di Tengah Sulitnya Akses Lapangan Pekerjaan bagi Difabel

Solider.or.id, Tuban. Kenyataan bahwa sulitnya mengakses lapangan pekerjaan bagi difabel membuat beberapa orang berinisiatif untuk menciptakan lapangan pekerjaan bagi difabel. Hal itulah yang dilakukan Muhamad Shobiq yang memulai bisnis kafe.

Di dalam UU nomor 8 tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas menegaskan, pada pasal 53 bahwa instansi pemerintah wajib merekrut 2 persen difabel dari keseluruhan jumlah karyawan yang bekerja di instansi tersebut. Sedangkan untuk swasta, 1 persen dari keseluruhan jumah karyawan yang bekerja di perusahaan. Namun implementasinya kenijakan tersebut  ibarat pepatah “masih jauh panggang dari api.”

Meski begitu, masih ada difabel yang mulai bergerak guna memperjuangkan haknya agar setara dengan masyarakat yang lain. Salah satunya Muhamad Shobiq, difabel daksa (satu kaki) dari lahir yang akrab disapa Obiex. Ia seorang pria yang mengaku banyak belajar dari pengalaman hidupnya. Ia berusaha untuk  terus berjuang, tanpa memedulikan hambatan yang dialaminya.

Kini, Obiex bekerja sebagai owner di sebuah kafe bernama MBOK KOM. Kafe yang mayoritas karyawannya difabel. Dari 17 orang karyawannya, 12 karyawan di antaranya tuli sebagai pramusaji, sebagai kasir diisi oleh seorang difabel polio, pengisi hiburan oleh difabel netra dan sisanya non difabel.

Ketika di konfirmasi Solider melalui telepon, pria kelahiran Gresik, 17 November 1986 itu menceritakan usahanya. Awal mula tercetus ide untuk  membuat café dengan merekrut difabel sebagai karyawan, berawal dari keprihatinan sulitnya mengakses lapangan pekerjaan bagi difabel, yang ia sendiri alami.

Sejak saat itulah, Obiex bertekad untuk bisa menciptakan lapangan pekerjaan bagi difabel. Jadilah kini, kafe MBOK KOM yang beralamat di Jl. Ketintangmadya no 50 Surabaya. Kafe yang buka mulai dari pukul 9 pagi sampai jam 1 malam itu selalu ramai pengunjung, apalagi jika akhir pekan tiba. “Makanya ngambil liburnya hari jum’at bukan minggu,” ujar suami dari Dian Wahyu Ningsih ini.

Jatuh bangun merintis usaha sudah sering ia alami. Merintis usaha dengan kondisinya difabilitas tidak menjadi hambatan utama. Baginya, selagi usaha tersebut mendapat banyak dukungan dari  keluarga, tidak ada yang mustahil. “Saya ingin mengedukasi masyarakat, kalau difabel itu ada, difabel itu mampu dan bisa, jika diberi kesetaraan hak yang sama,” ujar ayah dari Rafiandra Agam Shobiq ini.

Ia berharap kedepan, usaha tersebut dapat ditiru oleh difabel lain. Menciptakan lapangan pekerjaan bagi difabel yang lebih luas lagi, agar kesejahteraan difabel dapat terwujud. Melalui bidang usaha yang didirikannya, ia telah berhasil menunjukkan bahwa untuk mendapatkatkan sesuatu harus disertai dengan pengorbanan. Minimnya fasilitas dan perhatian terhadap difabel justru menjadi motivasi lebih baginya untuk tetap terus berusaha dan komitmen. [FIRA MERENDA ASA]

The subscriber's email address.