Lompat ke isi utama
Jejeran kursi roda

Smart Wheelchair, Solusi Kursi Roda Bantuan yang Tidak Nyaman Dipakai

Solider.or.id, Malang. Kursi roda bantuan atau yang diperoleh dari sumbangan baik dari personal, instansi pemerintah, lembaga sosial dan lainnya, dirasa tidak nyaman bagi beberapa difabel penngguna kursi roda.

Salah satu faktornya, pemberian kursi roda tidak melewati tahapan apa yang disebut sebagai reasonable accssessibility atau penyediaan akomodasi yang “layak” bagi difabel. Kata “layak” tidak hanya pada batas pemberian, namun pemberi bantuan mesti melakukan pengukuran per-subyek penerima untuk menyesuaikan kontruksi fisik dan ragam difabilitas.

Hal itu dirasakan gadis kecil difabel daksa asal Malang. Umi memilih turun dari kursi rodanya dan merangkak, baik di dalam rumah maupun di luar rumah ketika bermain dengan teman-temannya.

Kursi roda bantuan yang ia terima setahun lalu nyaris tidak diperhatikannya. Alias mangkrak. Kursi roda digunakan Umi hanya untuk keperluan berangkat sekolah, yang dibantu oleh ibunya untuk mendorong. Sampai kelas, ia pun memilih untuk merangkak lagi. “Kursi rodanya kebesaran,” kata Umi.

Ketua Umum Diffable Action Indonesia, Teguh membenarkan bahwa kursi roda dari bantuan kerap kali kurang nyaman untuk digunakan. Pada umumnya model kursi roda seperti yang ada di rumah sakit, ukuran disamaratakan untuk semua orang serta menggunakan ban mati tanpa angin.

"Kecuali kursi roda bantuan yang melalui pengukuran dan disesuaikan dengan fungsi atau peruntukan, seperti dari UCP atau United Celebral Palsy ," tutur Teguh (26/12) saat di Bogor. Organisasinya beberapa kali menjadi penyalur bantuan kursi roda, terakhir kerja bareng Telkom dan Kick Andi Foundation.

Menurut Teguh beberapa keterangan dari difabel, biasanya memaksakan diri menggunakan kursi roda bantuan meski tak nyaman. Dari pada tak memakai kursi roda sama sekali. Kasus lainnya kursi roda bantuan dijual, namun banyak pula yang memodifikasinya.

Smart Wheelchair dan Fiturnya

Melirik kursi roda yang jauh lebih nyaman dan aksesibel, Grup Riset Computer Vision, Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya (FILKOM UB) membuat alternatif teknologi untuk mobilitas difabel yang diberi nama Smart Wheelchair atau Kursi Roda Pintar.

Ada lima fitur yang tersedia dalam kursi roda pintar ini. Pertama, input perintah melalui LCD/ layar sentuh yang terpasang di smart wheelchair. Fitur trsebut berfungsi untuk menggerakkan kursi roda ke arah kanan-kiri atau depan-belakang. Kedua, aplikasi kontrol melalui smartphone yang telah terinstal aplikasi khusus. Ketiga, aplikasi sensor suara pengguna untuk menggerakkan kursi roda. Keempat, sensor gerakan kepala pengguna untuk mengontrol gerak kursi roda. Dan kelima, fitur human tracking, dengan itu kursi roda akan bergerak mengikuti guide atau caregiver yang berada di depannya, sehingga tidak perlu didorong.

Inovasi tersebut memungkinkan difabel pengguna kursi roda akan lebih mandiri dalam menjangkau lokasi-lokasi tertentu. Namun sayang harganya setara dengan sepeda motor matic.

Anggota Grup Riset Computer Vision, Dahnial Syauqy yang juga dosen Fikom UB menjelaskan, Smart Wheelchair dibanderol berkisar Rp. 20 juta per unit. Harga tersebut sudah sesuai dengan biaya penelitian. Dana hibah dari Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) sekitar Rp. 200 juta digunakan untuk bahan dan komponen terbaik agar hasil yang optimal.

Harga salah satu mode alat bantu yang mahal, tentu belum menjawab kebutuhan difabel dari kalangan masyarakat kurang mampu. Meski demikian, pilihan lain adalah dengan kembali pada alternatif perawatan kursi roda yang ada secara optimal.

Dari tempat terpisah, Wakil Ketua Himpunan Wanita Disabillitas Indonesia (HWDI) Kota Malang, Siska Budianti menyarankan solusi kenyamanan berkursi roda sekaligus menyoroti petugas Dinsos yang tidak paham tentang standar kenyamanan kursi roda. Ia mengakui kursi roda bantuan yang diberikan tanpa melalui proses pengukuran tidak akan nyaman digunakan.

"Persoalan kursi roda bantuan selain sama rata ukuran juga kualitas," kata Siska. Kursi roda dengan bahan yang kurang baik akan mudah patah. Masalah lainnya adalah menggunakan ban mati atau tanpa angin, hanya cocok digunakan ketika di dalam ruangan. Jika keluar ruangan akan terasa keras dan mengurangi kenyamanan. Kursi roda dengan sandaran tangan terlalu tinggi juga dapat melelahkan pengguna.

"Selama empat kali saya dapat bantuan kursi roda cuman satu yang bagus dan awet dari Yayasan Down Syndrom Amerika, sudah hampir 15 tahun dipakai cuman ganti ban saja," tutur Sisca. Tiga kursi lainnya diperoleh dari Dinas Sosial, Polda Jatim dan UCP. “Karena sudah punya, beberapa kursi roda kembali ia sumbangkan kepada difabel lain yang membutuhkan,” imbuhnya.

Menurut Sisca, yang tak kalah penting adalah pengetahuan petugas dinas sosial dan steakholder yang masih banyak belum paham tentang aksesibilitas kursi roda. Ketidakpahaman ini menyebabkan persoalan kursi roda bantuan yang tidak nyaman dipakai selalu terulang dari tahun ke tahun.

Menanam dan menumbuhkembangkan kesadaran difabilitas ke masyarakat luas memerlukan proses waktu dan aksi nyata. Seperti memahamkan tentang aksesibilitas kursi roda. Prakteknya, yakni dengan menyikapi adanya kursi roda bantuan yang tidak aksesibel secara positif.

"Solusinya dimodifikasi saja, bukan dijual. Ban mati diganti ban hidup atau yang bisa dipompa. Dudukan yang terlalu lebar atau sandaran terlalau tinggi bisa dipotong," saran Sisca. Atau diberikan kepada orang lain yang membutuhkan. “Biaya modifikasi dudukan dan sandaran relatif, kalau di Malang sekitar duaratus ribu rupiah,” tambahnya. [Ken]

The subscriber's email address.