Lompat ke isi utama
 Dukungan gerakan kecamatan inklusi berupa tanda tangan dan cap tangan

Gerakan Kecamatan Inklusi, Mendorong Setiap Desa di Tawangsari Inklusi

Solider.or.id, Sukoharjo- Deklarasi gerakan kecamatan inklusi dengan dukungan tanda tangan dari warga termasuk difabel serta stakeholder Kecamatan Tawangsari dicanangkan oleh Paguyuban Sehati pada peringatan Hari Difabel Internasional (HDI) pada minggu (24/12).

Deklarasi ini menyerukan agar 12 desa di wilayah Kecamatan Tawangsari, masuk sebagai desa inklusi. Selama ini baru dua desa yang diinisiasi oleh Paguyuban Sehati lewat Program Peduli Kemenko PMK yakni Desa Kateguhan dan Lorog. Dua desa lagi yakni Jatisobo dan Karangwuni yang terletak di Kecamatan Polokarto. Empat desa lainnya telah mengawali yakni Desa Grogol. Ngreco, Tegalsari dan Krajan di Kecamatan Weru. 

Gerakan kecamatan inklusi dengan berbagai indikator seperti halnya apa yang harus tersedia di desa inklusi yakni adanya data difabel, aksesibilitas fasilitas ulum, adanya partisipasi dengan terbentuknya kelompok difabel serta anggaran yang juga berpihak kepada kelompok tersebut.

Terkait aksesibilitas, Paguyuban Sehati terus menerus melakukan kampanye menuju desa yang ramah difabel, termasuk saat acara HDI 2017 ini. Beberapa panitia hingga mengajak beberapa anggota difabel untuk maju ke depan, dan melakukan praktik langsung sensitivitas difabel di hadapan Etty Wardoyo, Ketua RBM Kabupaten Sukoharjo serta beberapa anggota dewan serta OPD yang hadir.

Menurut Edy Supriyanto, Ketua Paguyuban Sehati, saat ditanya oleh wartawan landasan hukum apa yang dipergunakan terkait anggaran yang berpihak kepada kelompok difabel yakni Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi No. 22/2016 tentang Penetapan Prioritas Penggunaan Dana Desa dan . Permendes 19/2017 pasal 7e, sangat jelas mengamanatkan untuk bergerak bersama pemdes dan membuka akses, difabel proaktif.“Saya mendorong teman-teman difabel di setiap desa supaya lebih aktif melakukan komunikasi dengan kepala desa (kades). Karena dalam regulasi sudah jelas, dana desa bisa digunakan untuk pemberdayaan teman-teman,” jelas Edy.

Debora, salah seorang difabel warga Desa Kateguhan ditemui Solider usai acara mengatakan bahwa semenjak dirinya turut bergabung di dalam kelompok difabel desa semakin termotivasi lebih baik dan merangkul kawan-kawan difabel lainnya yang masih terstigma dan minder. Saat ditanya apalah fasilitas umum yang ada di desanya telah akses? Debora menjawab belum semuanya akses, dia memberi contoh satu swalayan, perusahaan ritel besar belum akses. “Namun fasilitas umum yang dibangun pemerintah sudah akses seperti kelurahan, puskesmas, pasar, kecamatan serta yang terbaru adalah Stasiun Tawangsari sudah akses,” ungkap perempuan difabel pengguna kursi roda yang setelah bergabung dengan kelompok lalu memiliki usaha membuat telur asin dan berbagai craft, di sela-sela kegiatan mengajar TPA. (Puji Astuti)

The subscriber's email address.