Lompat ke isi utama
Warga malang turut memeriahkan perayaan Hari Disabilitas Internasional yang jatuh pada 3 Desember

Tiga Indikator Sebagai Modal Awal Warga Malang Menuju Masyarakat Inklusif

Solider.or.id, Malang. Terdapat tiga indikator yang bisa menjadi modal awal untuk menciptakan masyarakat inklusif di kota Malang. Minat organisasi non difabel bergabung dalam kegiatan organisasi difabel, respon cepat organisasi non difabel terhadap persoalan-persoalan disabilitas dan perubahan cara pandang organisasi non difabel dalam memahami difabilitas, dari persepsi medis menuju cara pandang sosial.

Sekitar 350 peserta jalan sehat Hari Disabilitas Internasional menyesaki Jalan Ijen. Jumlah peserta tersebut berasal dari dukungan 19 organisasi difabel, lima organisasi non difabel dan mahasiswa relawan dari tiga Perguruan Tinggi. Mereka juga menggalang tanda tangan dari masyarakat di selembar spanduk bertuliskan 1000 Tanda Tangan Inklusi untuk Malang Raya Ramah Difabel. Yayasan Lingkar Sosial Indonesia, Yayasan Peduli Kasih KNDJH serta Forum Malang Inklusi (FOMI) mengkoordinir aksi jalan sehat dan wisata edukasi untuk memperingati Hari Disabilitas Internasional (HDI) di Malang, Minggu (10/12).

Jumlah dukungan yang tidak sedikit itu tidak terlepas dari peran lintas organisasi difabel dan non difabel yang berdiri sekitar 15 bulan lalu. Upaya tersebut merupakan indikator meningkatnya dukungan masyarakat terhadap gerakan inklusi. Hal itu tidak terlepas dari dorongan melalui kampanye berkelanjutan yang dilakukan organisasi-organisasi difabel. Untuk mengubah pemahaman warga Malang terhadap masyarakat berkebutuhan khusus.

Dibanding kondisi sebelumnya, pergerakan inklusi di Malang belum semasif saat ini. Meski sudah sejak lama aktor-aktor penggerak difabel giat mengkampanyekan isu-isu difabilitas, baru di era FOMI mampu merangkul hampir seluruh organisasi difabel di Malang Raya serta beberapa pendukung dari organisasi non difabel.

FOMI sendiri berdiri tahun lalu, tepatnya 15 September 2016 oleh sebelas organisasi dari lintas komunitas difabel, sosial dan kemanusiaan. Diinisiasi oleh aktivis Lingkar Sosial dan beberapa aktor penggerak dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Disabilitas, penggiat pendidikan inklusi, Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Malang, Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin) Malang dan organisasi lainnya. Saat ini FOMI telah berjejaring dengan 35 organisasi difabel dan non difabel se-Malang Raya.

Melihat upaya-upaya yang sudah dilakukan dan kembali pada tiga indikator tadi. Pertama, bahwa minat organisasi non difabel bergabung dalam organisasi difabel. Sebelum era FOMI pergerakan difabel di Malang Raya relatif tertutup berhubungan dengan organisasi non difabel dan ekslusif berdasarkan ragam disabilitas.

Senior anggota Gerkatin Kota Malang yang juga guru SLB di Kota Malang, Rizal Yahya pada rapat usai aksi jalan sehat Hari Disabilitas Internasional, mengatakan pergerakan difabel saat ini inklusif meliputi seluruh organisasi difabel dan non difabel. "Lingkar Sosial melalui Forum Malang Inklusi menggalang seluruh elemen masyarakat, organisasi difabel dan non difabel bersatu untuk misi Malang Raya ramah difabel," ujar Rizal Yahya didampingi para ketua lintas organisasi tuli Gerkatin Malang, Akar Tuli dan Shining Tuli Kota Batu, di basecamp Gecama.

Kegiatan bersama organisasi difabel dan non difabel diantaranya Kelas Bahasa Isyarat di SD Muhammadiyah 10 Sumbermanjing Kulon bersama 1000 Sepatu untuk Anak Indonesia, Sinau (belajar) Bahasa Isyarat bersama Lawang Street Punk, Festival Malang Art serta Jalan Sehat HDI dan Games Edukasi di Hawai Waterpark Malang.

Indikator kedua sebagai modal, respon cepat organisasi non difabel terhadap persoalan- persoalan difabel. Data Yayasan Lingkar Sosial (Linksos) Indonesia dalam satu tahun ini telah mendistribusikan alat bantu dari lintas organisasi berupa tiga unit kruk, satu unit walker, dua unit kaki palsu dan tiga unit kursi roda.

Direktur Yayasan Peduli Kasih KNDJH, Nur Mifthaul Jannah mengatakan bahwa persoalan disabilitas bukan hanya urusan organisasi difabel melainkan tanggung jawab bersama. "Terkait kebutuhan alat bantu difabel, bagi KNDJH hanya soal ada atau tidak ada, bukan masalah birokrasi seperti aturan pengajuan permintaan dan sebagainya," terang Miftha panggilan akrabnya.

“Jika ada biasanya memerlukan waktu tiga hari hingga seminggu untuk realisasi. Jika tidak ada biasanya perlu waktu sekitar satu bulan untuk kami upayakan. Bisa juga kami share ke organisasi sosial lainnya,” imbuhnya.

Jika dibandingkan dengan layanan pemerintah tentu sangat berbeda. Organisasi non pemerintah memiliki struktur kebijakan yang lebih ringkas, sedangkan lembaga pemerintah dalam hal ini terkait pemenuhan kebutuhan alat bantu di bawah Dinas Sosial memiliki alur birokasi yang lebih panjang. Dari pengajuan, penganggaran sampai kemudian realisasi. Rata-rata memerlukan waktu satu tahun sejak pengajuan, itupun jika disetujui.

Jaringan Lingkar Sosial juga mencatat, lintas organisasi sosial diantaranya KNDJH dan Harmoni Cinta dalam satu tahun terakhir ini telah membantu biaya pengobatan puluhan pasien dari warga miskin diantara difabel dan warga dengan gangguan jiwa (ODGJ).

Modal ketiga, perubahan cara pandang organisasi non difabel terhadap difabel dari persepsi medis (medical model) menuju cara pandang sosial (social model). Jika sebelumnya difabel identik dengan santunan-santunan karena dianggap sakit dan tidak mampu, saat ini melalui jaringan Lingkar Sosial diarahkan dalam bentuk pemberdayaan.

Ketua Badan Pengurus Yayasan Linksos Indonesia, Widi Sugiarti mengatakan bahwa setiap kontribusi masyarakat terhadap difabel harus mengacu pada unsur pemberdayaan. Menempatkan difabel sebagai subyek yang memiliki potensi dan kesetaraan sosial, bukan belas kasihan. “Dengan demikian tak ada lagi istilah bantuan bagi difabel melainkan dukungan untuk kegiatan pemberdayaan,” tandas Widi.

Saat ini Lingkar Sosial mendampingi tiga kelompok kerja difabel. Dua di Kabupaten Malang yaitu Lawang dan Kepanjen, satu di kota Malang yaitu Sawojajar. Masing-masing kelompok kerja tersebut mendapat dukungan alat kerja berupa mesin jahit dari Yayasan Peduli Kasih KNDJH serta limbah konveksi berupa kain perca dari sebuah garmen di kota Malang.

Sedangkan materi pelatihan teknis dan manajamen kelompok kerja Linksos bekerjasama dengan komunitas pemberdayaan perempuan Pelangi Nusantara.

Dengan tiga indikator sebagai modal awal, pergerakan inklusi di Malang akan terus berlanjut. Tidak hanya bersinergi dengan lintas organisasi dan masyarakat, melainkan wajib dengan pemerintah sebagai pemangku kebijakan.

"Melalui Hearing (forum dengar) dengan DPRD, audensi dengan dinas- dinas, termasuk bekerjasama dengan rumah sakit dan puskesmas guna menyusun standar layanan kesehatan bagi difabel," tambah Widi. [KEN]

The subscriber's email address.