Lompat ke isi utama
Salah satu siswi ABK berbaur dengan siswa-siswi non-ABK di Sekolah Dasar (kredit gambar: websitependidikan.com)

Perilaku Memaklumi oleh Guru Berdampak Negatif Terhadap ABK

Solider.or.id, Yogyakarta. Perilaku seorang guru yang memaklumi hambatan siswa-siswi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) dalam proses belajar di sekolah akan berdampak negatif.

Selain dapat menyendat laju perkembangan ABK, juga menguatkan kebebalan cara pendang guru yang keliru dalam memahami kebutuhan ABK.

Pada 25 November lalu, masyarakat dihadapkan pada momen yang mengingatkan pada peran para guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Satu minggu kemudian, kaum difabel juga merayakan Hari Difabel Internasional (HDI) yang jatuh pada 3 Desember. Dua momentum tersebut memiliki keterkaitan, terutama jika ditarik kedalam satu aspek yakni bidang pendidikan.

Dimana dua momentum tersebut memunculkan sebuah pertanyaan “bagaimana peran seorang guru dalam implementasi pendidikan inklusi hari ini?”

Di dalam Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, menegaskan bahwa:

Tujuan dan fungsi pendidikan nasional untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Dalam rangka mencapai tujuan dan memenuhi fungsi pendidikan nasional tentu saja membutuhkan peran aktor-aktor yang terlibat di dalam dunia pendidikan. Salah satunya peran para guru dalam sistem pendidikan inklusi. Sebuah sistem yang meniscayakan adanya upaya menjembatani interaksi antara siswa ABK dengan siswa lainnya dalam satu atap yang sama dalam proses pembelajaran.

Munculnya konsep pendidikan inklusi memberikan kesempatan bagi ABK yang selama ini kerap termarjinalkan di dalam model pendidikan hari ini yang cenderung segregatif. Namun bukan berarti implementasi pendidikan inklusi saat ini lolos dari permasalahan.

Janu Arlin Wibowo seorang pengamat pendidikan inklusi mengatakan salah satu persoalan yang dihadapi dalam implementasi pendidikan inklusi adalah paradigma guru dalam memandang siswa ABK.

Dari hasil penelitian yang pernah ia lakukan di beberapa sekolah inklusi di Yogyakarta, selama ini sebagian banyak guru yang mengajar di sekolah-sekolah inklusi masih memandang difabel dengan empati berlebihan terhadap siswa difabel. Empati berlebihan ini dalam praktiknya kerap muncul dengan perilaku memaklumi para siswa ABK.

Janu mencontohkan perilaku tersebut terjadi ketika siswa ABK tidak bisa mengikuti materi pelajaran, atau ketika siswa difabel tidak memahami substansi materi yang diajarkan, guru lebih memilih untuk memaklumi ABK karena berdasar pada pandangan ketidakmampuan.

Menurut Janu hal tersebut berdampak negatif karena secara tidak langsung membendung potensi siswa ABK. Jika perilaku tersebut dibiarkan akan berefek pada terhambatnya proses belajar ABK. Kebiasaan memaklumi tersebut, dianggap sebagai solusi yang sebenarnya merupakan dampak dari ketidakmampuan seorang guru. Padahal adanya ketidakmampuan pada diri siswa ABK muncul akibat minimnya pemahaman serta fasilitas yang memadai di lingkungan sekolah.

Selain itu, pemakluman terhadap siswa ABK juga kerap muncul akibat dari metode pembelajaran yang tidak sesuai. Seperti pada pelajaran fisika yang disajikan menggunakan metode hafalan. Jika siswa ABK tidak mampu menghafal, pemakluman menjadi sikap yang biasanya dilakukan seorang guru. Sedangkan materi pembelajaran sebenarnya bisa dikemas secara kontekstual. Selian itu juga banyak alat-alat yang dapat dikembangkan untuk menunjang pembelajaran siswa ABK di kelas.

Lha wong tidak berusaha menyediakan (Red: fasilitas) kok terus mengkambing-hitamkan keadaan,” ujar penerima beasiswa LPDP yang akan melanjutkan studi doktoralnya di Universitas Negeri Yogyakarta.

Lebih lanjut Janu menjelaskan ada beberapa poin yang bisa mencari acuan pemecahan persoalan tersebut. Pertama, pihak penyelenggara pendidikan menghadirkan inovasi-inovasi baik dalam kurikulum ataupun akomodasi yang dapat menunjang proses belajar ABK. Hal tersebut sangat efektif bagi guru dalam proses mengajar.

Poin kedua, menurut Janu para guru juga harus diberi pembekalan dan persiapan untuk mengajar di sekolah inklusi. Hal ini memerlukan upaya yang membutuhkan kerjasama dari institusi-institusi pendidikan, khususnya yang mencetak generasi calon guru. Pembekalan pemahaman tersebut dapat menjadi stimulus bagi guru agar dapat mengajar secara inovatif.

“Ini butuh cepat, jadi kalau nunggu-nunggu pemerintah saja atau peneliti saja, sulit, kelamaan dan gurulah yang tahu permasalahan yang sesungguhnya,” pungkas pria yang pernah menerima penghargaan juara 1 dalam seleksi pelaku inovasi di tingkat daerah.[Tio Tegar Wicaksono]

The subscriber's email address.