Lompat ke isi utama
Suasana FGD RPP Pendidikan

FGD Draft RPP Pendidikan : Pendidikan Inklusif Jadi Strategi Capai Pendidikan untuk Semua

Solider.or.id, Surakarta-Pendidikan inklusif menjadi strategi mencapai pendidikan untuk semua. Upaya education for all bisa diwujudkan dengan kerangka RPP. Demikian paparan yang disampaikan oleh Siti Fanatus dari Puskapensif IKIP PGRI Jember dalam FGD hari kedua membahas draft Peraturan Pemerintah tentang Pendidikan di Hotel Amrani Syariah, Selasa (7/11) oleh PPRBM Solo bersama pemangku kepentingan, LSM, dinas pendidikan, praktisi pendidikan, organisasi difabel dan perguruan tinggi.

Siti mengungkapkan,  selama ini telah terjadi kesalahpahaman bahwa pendidikan integrasi  dilakukan diakui sebagai pendidikan inklusif. Wujudnya ada namun menafikan apakah anak bahagia atau tersiksa di sekolah tersebut. Kemudian kelas inklusi dimaknai sebagai kelas yang disulap untuk anak-anak yang tidak bisa bersekolah di reguler dan dan dianggap mengganggu kawan-kawannya yang lain.

Pada sistem integrasi, anak mengikuti sistem, sedangkan jika inklusif, sistemlah yang mengikuti anak. Kemudian timbul pertanyaan, apakah guru siap atau tidak? Pertanyaan itu dijawab oleh para peserta diskusi.

Siti Fanatus berbagi pengalaman, seperti yang diutarakannnya kepada Solider, “Jika dilihat tahun SK itu turun, fakta sebelum kami bergerak adalah pendidikan inklusif itu makin lama makin bukan bertambah tetapi lambat laun berkurang. SD yang ditunjuk itu menghilang. Untuk saat ini  kita optimis kalau dari gerakan itu menarik dari teman-teman guru, guru PAUD, guru SD. Bahkan untuk yang PAUD kami sudah jadwalkan sama mereka”.

Tetapi Siti Fanatus beranggapan untuk tidak terlalu idealis. Intinya Puskapensif harus menyediakan diri. “Dan kita ingin berjuang bersama mereka. Respon mereka bagus sehingga tiga bulan kita sudah dijadwalkan ke beberapa kecamatan, dan ini harus,”jelasnya.

Ada 500 guru PAUD saat ini yang diajak bekerja sama dengan Pusat Kajian Pendidikan Inklusif (Puskapensif) dan pernah bekerja sama dengan Sapda Yogyakarta. Perjuangan pendidikan inklusif kemudian melahirkan sekolah inklusi. Pengalaman di Jember ada sebuah sekolah Madrasah Ibtidaiyah yang jauh dari rumah para siswanya namun dia dipilih dengan alasan trauma pada sekolah inklusif, dan orangtua lebih percaya kepada madrasah. (Puji Astuti)

 

The subscriber's email address.