Lompat ke isi utama
ilustrasi film wonderfull liife

Wonderful Life: Semua Anak Terlahir Sempurna

Kali ini saya sengaja mengupas tentang edukasi bagi orangtua, keluarga, dan lingkungan malalui sebuah Film Wonderful Life. Sebuah film yang mengisahkan perjuangan seorang ibu dengan anak lelakinya yang dyslexia. Usaha yang dilakukannya dalam “menyembuhkan” anak lelakinya yang dyslexia. Perjuangan si anak pun tidak kalah menarik untuk dibagikan kisahnya.

Menurut sebuah sumber, Dyslexiaatau disleksia merupakan gangguan dalam perkembangan baca-tulis yang umumnya terjadi pada anak menginjak usia 7 hingga 8 tahun. Ditandai dengan kesulitan belajar membaca dengan lancar dan kesulitan dalam memahami meskipun tingkat intelegensinya rata-rata atau bahkan di atas rata-rata. Beberapa melihat disleksia sebagai sebuah perbedaan akan kesulitan membaca akibat penyebab lain, seperti kekurangan non-neurologis dalam penglihatan atau pendengaran atau lemah dalam memahami instruksi bacaan. Ada 3 aspek kognitif penderita disleksia yaitu Pendengaran, Penglihatan, dan Perhatian. Disleksia mempengaruhi perkembangan bahasa seseorang.(https://id.wikipedia.org/wiki/Disleksia).

Solider.or.id.Yogyakarta. Tidak mudah memang hidup sebagai orang tua dengan anak berkebutuhan khusus, apalagi harus sambil bekerja. Kompleksitas permasalahan yang datang dari berbagai sisi, dari keluarga, pekerjaan dan keadaan anak, kerap menghadirkan putus asa. Namun kesadaran untuk menerima apa pun kondisi anak, menyayangi dan mendukung apa yang menjadi kegemarannya adalah sebuah perubahan yang patut mendapatkan apresiasi.

Kesadaran orangtua bahwa setiap anak terlahir sempurna dengan berbagai kelebihan dan kekurangannya harus dimaknai. Terlebih perjuangan orang tua yang mau menelanjangi diri, mengontrol egosentris dalam membesarkan anak berkebutuhan khusus dengan tidak memaksakan keinginan dan ambisinya patut diteladani.

Pesan tersebut tersirat dalam sebuah Film “Wonderful Life”. Sebuah film dengan pesan moral, agar para orang tua menyadari pentingnya memberikan kebebasan kepada anak-anaknya, memilih apa yang mereka sukai. Sebab, ketika segala sesuatu dilakukan dari hati, maka setiap anak dapat menemukan kebahagiaan dan kesuksesan.

Sebuah film yang mengangkat tema parenting anak berkebutuhan khusus, yang diangkat dari sebuah novel kisah nyata, ditulis sekaligus dialami oleh Amalia Prabowo. Amalia seorang wanita karir yang sukses, dengan putra tunggalnya bernama Aqil yang divonis disleksia oleh dokter.

Ambisi orangtua dan realitas

Dalam film tersebut digambarkan bahwa Amalia (diperankan oleh Atiqah Hasiholan), dibesarkan oleh orang tua yang selalu menuntut anaknya berprestasi.  Amalia  yang seorang single-parent, berusaha menerapkan prinsip yang sama terhadap putra tunggalnya.

Namun kenyataan berbicara lain. Aqil (yang diperankan oleh Sinyo), anak Amalia, memiliki kesulitan membaca dan menulis. Sepanjang pelajaran berlangsung, Aqil tidak pernah fokus mendengarkan gurunya, Dia lebih memilih untuk menggambar tanpa pernah menyelesaikan tugas sekolahnya. Nilai-nilai Aqil di sekolah kurang baik. Aqil dianggap sebagai siswa yang tidak berprestasi, hanya pada mata pelajaran seni dan olahraga yang nilainya menonjol.

Melihat kondisi anaknya, Amalia berkonsultasi dengan seorang dokter. Dari dokter ternyata Aqil divonis mengidap disleksia. Dokter juga mengatakan bahwa disleksia yang dialami Aqil tidak bisa disembuhkan.

Tidak percaya dengan vonis dokter dan tidak terima dengan kenyataan yang terjadi pada anaknya, kemudian Amalia melakukan berbagai hal demi membuat anaknya sembuh dan bisa berprestasi di sekolah. Mulai dari pergi ke terapis hingga mengunjungi berbagai orang pintar di pulau Jawa, semua dilakukan Amalia demi kesembuhan Aqil.

Kehidupan Amalia, perempuan yang sukses di dunia periklanan, harus berubah ketika dihadapkan pada kondisi anaknya, Aqil yang menyandang disleksia. Disleksia yang terjadi pada Aqil membuat bocah lelaki itu tidak bisa membaca, menulis,dan dikucilkan oleh teman-temannya.  Perjalanan Amelia menyembuhkan Aqil agar dapat berprestasi, membuat kariernya sebagai seorang CEO dan strategic planner di salah satu perusahaan periklanan tersebut keteteran dan Amalia terancam kehilangan pekerjaan.

Pandangan terkait disleksia

Di dalam cerita, Amalia pergi ke beberapa tempat di pulau Jawa untuk mendatangi orang pintar dan terapis yang dianggap mampu menyembuhkan segala penyakit. Namun hampir semua terapis dan orang pintar yang dikunjungi oleh Amalia menyatakan kalau tidak ada penyakit pada Aqil. DI mana pada saat yang sama dokter memvonis Aqil mengidap disleksia.

Saran yang diberikan oleh berbagai terapis yang dikunjungi juga hampir serupa, yaitu agar Aqil makan teratur dan menghindari stres. Apa yang dirasakan di dalam hati, pasti mempengaruhi otak.

Amelia sempat bingung dengan saran yang diberikan, karena tujuan utamanya adalah untuk menemukan obat yang membuat anaknya sembuh dan berprestasi. Bahkan salah satu ahli herbal (diperankan oleh Didik Nini Thowok) yang dikunjungi juga menyatakan kalau tidak ada yang salah dengan Aqil dan mengatakan bahwa semua anak terlahir sempurna.“Tidak ada yang salah dengan anak ibu, karena semua anak terlahir sempurna”.

Dan adegan demi adegan dalam Film “Wonderfull Life” seolah hendak mengajarkan sekaligus memberitahu masyarakat bahwa disleksia bukanlah penyakit ‘kutukan’, demikian pula menginformasikan bahwa tidak ada yang salah dari disleksia.

Pada film tersebut, kita juga diajak menyaksikan perjuangan seorang Amalia. Bagaimana dia merubah cara pandang hidupnya terhadap Aqil, dan menerimanya sebagai anak dengan kesempurnaannya tersendiri. Hingga akhirnya dia menemukan kebahagiaan baru dalam keluarganya. (harta nining wijaya)

Notes: Film Wonderful Life telah diputar di bisokop-bioskop Indonesia sejak setahun silam, tepatnya sejak Oktober 2016. Namun bagi yang penasaran tentang film tersebut saya sertakan link: https://www.youtube.com/watch?time_continue=46&v=KzVPoPHdc_g. Selamat menyaksikan dan mengedukasi diri.

The subscriber's email address.