Lompat ke isi utama
suasana pelatiha oleh ININNAWA

Pelatihan Pengorganisasian dan Penelitian Desa, Libatkan Difabel

Solider.or.id, Mamuju -- Sekolah Rakyat Petani (SRP) Payo-Payo mengadakan Pelatihan Pengorganisasian dan Penelitian Desa, yang melibatkan difabel sebagai salah satu pesertanya, kegiatan tersebut meliputi Orientasi selama 7 [tujuh] hari, dari tanggal 13 sampai 19 Oktober 2017 di Bantimurung Kabupaten Maros Sulawesi Selatan, kemudian pelatihan selama 1 [satu] bulan, mulai 20 Oktober sampai dengan 20 November 2017 di Desa Soga, Kecamatan Marioriwawo, Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan.

Sebanyak 22 (dua puluh dua) orang dari berbagai provinsi se-indonesia timur mengikuti pelatihan yang diadakan oleh komunitas ININNAWA.  Salah satu organisasi yang ada didalamnya yaitu SRP Payo-payo (payo-payo dalam bahasa Mandar berarti orang-orangan sawah) yang fokus pada pengorganisasian desa khususnya petani. Hal itu disampaikan Ishak Salim sekretaris SRP Payo-payo dan fasilitator dalam kegiatan ini kepada solider, Jumat (13/10).

Lebih lanjut aktifis difabel ini mengatakan, untuk pelatihan tahun ini ada hal baru yaitu melibatkan difabel yang juga konsen pada isu-isu di desa, “Selama ini banyak pelatihan yang dilakukan oleh berbagai macam lembaga tidak melibatkan difabel, nah kami memasukkan isu keberpihakan itu agar teman-teman difabel bisa berperan aktif dalam pembangunan di desanya, dan semakin banyak orang yang memiliki kesadaran keberpihakan pada kaum marjinal seperti difabel”.

“Dipelatihan ini kami melibatkan 1 (satu) orang difabel atas nama Habil Ilyas asal Desa Pasa’bu’, Kecamatan Tapalang, Kabupaten Mamuju Sulawesi Barat, karena dia memiliki perhatian untuk bisa berpartisipasi di desanya,” kata Ishak.

Ishak menjelaskan saat penempatan di desa selama 4  minggu nanti, kami telah membicarakan dengan panitia yang bertugas di desa untuk mencarikan rumah penduduk yang akses untuk peserta difabel, dan kalaupun tidak akses panitia akan melakukan sedikit penyesuaian-penyesuaian untuk aksesibilitas.

“Jadi sebenarnya tidak ada masalah ketika melibatkan difabel, justru ini penting bagi peserta yang lain juga untuk memiliki sensitifitas terhadap teman-teman difabel ketika mereka berinteraksi secara lansung, misalnya tadi saat makan siang rupanya letak makanan itu terlalu tinggi sehingga Habil yang pengguna kursi roda kesulitan untuk mengambil makanan, lalu kami mengubah letak makanan itu lebih rendah sehingga Habil bisa mengambil sendiri tanpa harus dibantu”. Tuturnya

Ada kebanggaan tersendiri ketika bisa mengikuti kegiatan pelatihan seperti ini, dimana biasanya dalam kegiatan yang bukan tentang isu difabel, kita sebagai difabel tidak dilibatkan sama sekali padahal kita adalah bagian dari keberagaman yang juga bisa berperan aktif dalam setiap geliat pembangunan, Jelas Habil saat dihubungi Solider di sela-sela kegiatan. (14/10)

Dalam kegiatan pelatihan ini saya ingin belajar bagaimana mengelola kotoran-kotoran ternak yang selama ini tidak bermanfaaat, menjadi bio gas, kemudian memproduksi pupuk-pupuk organik, “Sebab di desa saya dan tentunya di desa-desa lain juga, hampir semua petani menggunakan pupuk kimia, pestisida, pada lahan-lahan pertanian dan sawah, sehingga justru membuat kondisi tanah menjadi rusak.” Ungkap sekretaris Gerakan Mandiri Difabel ini.

Menurut Habil sangat penting membangun sistem pertanian yang terintegrasi, yang bisa memproduksi energi, dan memproduksi pupuk organik, yang akhirnya tidak akan membeli dan bergantung pada pupuk kimia lagi, apa lagi baru-baru ini petani di Sulawesi Barat diresahkan dengan beredarnya pupuk palsu. Tutupnya. (Shafar Malolo)

The subscriber's email address.