Lompat ke isi utama
foto kegiatan di Gereja Sedayu

Membangun Gereja Inklusi Melalui Keluarga

Solider.or.id.Yogyakarta. Prinsip pembangunan setara pada berbagai bidang kehidupan, tidak bisa begitu saja diwujudkan tanpa komitmen berbagai pihak. Demikian pula dalam mewujudkan inklusivitas di rumah peribadatan. Bertepatan dengan peringatan 90 Tahun Gereja Santa Theresia Sedayu yang beralamat di Gubug, Argosari, Sedayu, Bantul, melalui sebuah sarasehan, mulai membangun komitmen bersama antara pihak gereja dengan lingkungan dalam mewujudkan pembangunan gereja yang inklusif.

Sarasehan  dengan tema “Membangun Gereja Inklusi Melalui Keluarga” dilaksanakan di Aula Gereja, Minggu (27/8/2017), dengan menghadirkan dewan paroki dan ketua bidang, para ketua lingkungan serta warga gereja yang memiliki anak difabel. Pelibatan berbagai pihak dimaksudkan agar dapat dipetakan kebutuhan warga gereja difabel dan pemenuhannya, sehingga dapat mengakses Gereja Sedayu, beribadah dengan mudah, sebagaimana umat pada umumnya. Untuk itu, keluarga memegang peran penting dalam setiap pembangunan, tidak terlepas tumbuhnya inklusivitas dalam gereja.

Pemutaran film motivasi dengan judul “ Yes, I can” mengawalai sarasehan pagi itu. Sebuah film pendek yang mendokumentasikan praktik-praktik keberhasilan difabel pada berbagai bidang kehidupan.

Menghadirkan empat orang nara sumber, yakni Sri Hartaningsih Ketua Perspektif Yogyakarta yang juga wartawan Solider, media online khusus isu difabilitas , Jovita Dyah Retnani, fasilitator difabel, Sigit  seorang difabel pemilik usaha bakpia dan Eny ibu dari anak difabel. Sarasehan berhasil membuka cara pandang bahwa difabel merupakan bagian dari semua, yang harus dipandang sebagai manusia yang harus dimanusiakan di berbagai sektor kehidupan.

Tidak satupun yang ditinggalkan

Pastor Paroki Gereja St. Theresia Sedayu, Yohanes Tri Widianto, Pr., dalam sambutan pembukaannya mengatakan bahwa membangun gereja yang inklusif, inovatif, inovatif dan transformatif, telah menjadi arah dasar Keuskupan Agung Semarang 2016-2020. “Terwujudnya peradaban kasih di Indonesia, menjadi tujuan dan cita-cita yang hendak dicapai ,” ungkapnya.

Lebih lanjut Romo Tri, nama panggilan Pastor Paroki Gereja St Theresia Sedayu tersebut mengatakan bahwa  salah satu langkah nyata yang diwujudkan yakni dengan pengembangan keluarga, lingkungan dan kelompok-kelompok umat. Seluruh umat tanpa kecuali dapat berperan dalam masyarakat, dilibatkan dalam pembangunan, sehingga pelayanan karitatif dan pemberdayaan kelompok marjinal diantaranya difabel ditingkatkan. Dengan harapan kehidupan warga difabel sejahtera dan bermartabat.

“Prinsip yang hendak diimplementasikan dalam pembangunan (gereja) yakni tidak ada satu pun yang ditinggalkan (no one left bihind). Artinya pelaksanaan pembangunan tersebut harus memberi manfaat untuk semua, serta melibatkan semua kepentingan termasuk difabel.  Jadi tidak satu pun warga gereja yang ditinggalkan,” tandas Romo Tri.

“Untuk itu dibutuhkan peran serta banyak pihak dalam mengurai permasalah ini. Salah satu faktor penting perubahan situasi yakni keluarga-keluarga yang memiliki anak atau saudara difabel. Dorongan dari keluarga dan masyarakat sekitar sangat dibutuhkan agar difabel bisa berpartisipasi dan mengembangkan potensi, mampu tumbuh dan berkembang baik secara individual maupun kelompok .” Jelas Romo Tri.

Membangun wadah berbagi

Adapun penanggung jawab acara, Maria Tri Suhartini memaparkan bahwa sarasehan juga bertujuan membangun  komunikasi, silaturahmi antar keluarga dengan anak difabel. Sehingga dapat saling mengenal, berbagi, dan membangun jaringan atau kerja sama.

Sarasehan yang diinisiasi oleh Romo Tri disambut baik oleh dia. “Waktu itu saya tidak tahu dengan wadah apa saya dapat memfasilitasi pertemuan dengan warga yang memiliki anak difabel. Sehingga moment sarasehan yang dinisiasi Romo merupakan moment yang tepat dan klop dengan niat saya mendata, dan mengumpulkan warga dengan anggota keluarganya yang difabel,” ujarnya.

Dengan banyaknya difabel di Sedayu yang belum terdata, dengan sendirinya banyak yang belum  tersentuh oleh gereja dalam kunjungan rutin ke beberapa keluarga. Harapannya ke depan difabel warga Sedayu punya wadah saling berbagi, saling menguatkan, mampu terlibat  aktif dalam gereja dan masyarakat.

Sarasehan tersebut juga akan ditindaklanjuti dengan pertemuan-pertemuan lanjutan yang juga akan melibatkan orang tua sekaligus anak difabel. “Jika kali ini hanya orang tuanya yang hadir, untuk pertemuan berikutnya akan diundang orang tua dan anak difabel,” pungkasnya. (hnw).

The subscriber's email address.