Lompat ke isi utama
Perbedaan Tuli, Tuna Rungu, dan Gangguan Pendengaran

Perbedaan Tuli, Tuna Rungu, dan Gangguan Pendengaran

Solider.or.id, Yogyakarta - Mendukung berkembangnya komunitas Tuli dan masyarakat yang sadar akan bahasa isyarat dapat dituangkan dalam berbagai bentuk, salah satunya menghimpun kelompok diskusi melalui aplikasi online whatsapp. Hal inilah yang tengah dilakukan seorang ibu tiga anak bernama Iies Arum Wardhani asal Yogyakarta. Anak pertama Iies adalah seorang laki-laki Tuli yang masih menjadi siswa sekolah dasar di sebuah sekolah luar biasa (SLB) di Yogyakarta.

Sejak 2 April 2017, Iies menyebarkan ajakan bergabung ke dalam grup whatsapp dan pada 3 April sore grup yang dibuatkan sudah mencapai batas maksimum anggota, yakni 256 orang. Beberapa orang dalam grup ini pun hendak menambahkan teman mereka untuk masuk ke dalam grup namun terkendala batas maksimum anggota kelompok.

“Baru kali ini ada grup whatsapp sampai penuh anggotanya”, ujar Dewi Sri Rahayu salah satu anggota grup yang diberi nama Keluarga Bisindo. Adapun grup ini terdiri dari anggota dengan berbagai macam latar belakang, ada yang sebagai guru SLB, orang tua dengan anak Tuli, mahasiswa, maupun relawan di komunitas Tuli di seluruh Indonesia.

Iies sebagai penggagas munculnya grup ini menjelaskan bahwa grup ini dibuat sebagai wadah dukungan kepada teman-teman Tuli dalam menggunakan bahasa isyarat Indonesia (Bisindo). “Kita bersama-sama belajar dari grup ini, saling berbagi informasi. Saya harap tidak ada pembaca yang diam, setiap pribadi mempunyai kontribusi untuk Tuli secara setara dengan orang dengar”, kata Iies sebelum memulai diskusi sesuai jadwal.

Awal mula dibuatnya grup ini adalah sebagai media pembelajaran gratis dan berdiskusi mengenai arti kata Tuli serta apa bedanya dengan gangguan pendengaran dan tuna rungu. Diskusi ini dibungkus dengan materi berjudul “Tuli, tuli, Gangguan Pendengaran, Tuna Rungu apakah sama?”. Moderator, pemateri, serta jadwalpun sudah siap dengan tugasnya masing-masing. Meskipun diskusi ini berjalan di dunia maya namun teknis berjalannya acara disiapkan layaknya diskusi tatap muka.

Pemateri yang bertugas pada 3 April 2017 pukul 20.00 - 21.30 WIB ini adalah seorang Tuli bernama Fikri Muhandis asal Yogyakarta yang kini sedang menempuh pendidikan S1 di Universitas Brawijaya Malang.

Penjelasan Melalui Video Bahasa Isyarat

Peserta diskusi online ini tidak hanya orang Tuli namun juga orang dengar yang tidak memahami bahasa isyarat. Panitia diskusi kemudian menjelaskan materi menggunakan video dengan bahasa isyarat agar mudah dipahami oleh Tuli kemudian jurubahasa menerjemahkan video tersebut ke dalam tulisan Bahasa Indonesia. tiga video yang diunggah oleh Fikri yakni terminologi Tuli, terminologi tuna rungu, dan terminologi gangguan pendengaran.

Pada videonya yang pertama, Fikri menjelaskan bahwa kata ‘tuli’ dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) artinya rusak pendengaran dan merupakan kata yang kasar dan negatif. “Nah kalau Tuli dengan T besar, ini merujuk pada sebuah kelompok minoritas yang berkembang, memiliki budaya, dan pengguna bahasa isyarat dalam bekomunikasi”, jelas Fikri.

Fikri menjelaskan dalam vdeo keduanya bahwa istilah tuna rungu dibuat oleh sekumpulan dokter dengar tanpa melibatkan orang Tuli. Istilah tuna rungu inilah yang kemudian masuk ke dalam KBBI. “Hingga kata ini dianggap lebih baik, halus, sopan, dan formal. Banyak dokter yang menyarankan orang Tuli untuk berlatih oral / gerak bibir. Namun sayangnya menjadi fokus pada terapi wicara tanpa ada waktu lagi bagi anak Tuli untuk berbaur dengan teman-temannya yang bisa mendengar. Sehingga anak Tuli tertinggal banyak ilmu”, imbuh mahasiswa angatan 2012 ini.

Pada video ketiganya, Fikri menjelaskan mengenai gangguan pendengaran. “Gangguan pendengaran itu bukan untuk Tuli, namun untuk orang dengar yang turun kemampuan dengarnya contohnya karena seseorang bertambah tua. Nah orang dengan penurunan kemampuan dengar inilah dapat terbantu denga menggunakan alat bantu dengar”, terang Fikri.

Di akhir diskusi, moderator menyimpulkan bahwa permasalahan utama adalah masyarakat umum belum mengetahui bahwa Tuli bukan kata yang kasar. Masalah ini disebabkan kurangnya sosialisasi guna memberikan pemahaman mengenai identitas Tuli, budaya Tuli, dan bahasa isyarat. Hanya sebagian kecil masyarakat yang memahami perbedaan terminologi tersebut. Masalah ini diakui oleh Fikri karena kurangnya sosialisasi kepada asyarakat luas.

“Maka dari itu kami masih berusaha untuk mensosialisasikan seperti melalui grup Keluarga Bisindo. Kesempatan ini bagus sehingga saya bisa berbagi ilmu tentang Tuli kepada anggota grup ini yang penuh dan semua semangat bertanya”, pungkas Fikri.

Beberapa peserta diskusi pun memberikan ucapan terima kasih karena telah mendapat pencerahan ilmu baru. Moderator menginformasikan karena banyaknya pertanyaan yang diajukan pada grup ini, maka pertanyaan beserta jawaban dari pemateri akan dibagikan melalui grup facebook. Adapun rencana keberlanjutan grup ini adalah membahas tema-tema lainnya pada diskusi lainnya dengan pemateri yang beragam. (Ramadhany Rahmi)

The subscriber's email address.